Begini cara menangkal kampanye hitam sawit di kalangan Gen Y

Minggu, 1 Maret 2020 | 12:44 WIB ET

SERPONG, kabarbisnis.com: Gen Y merupakan generasi yang tumbuh di tengah hiruk pikuknya perkembangan teknologi informasi, terutama wireless. Paparan teknologi mempengaruhi kepekaan mereka terhadap perubahan.

Generasi Y yang berusia mulai 15 tahun ini sepintas kreatif, cerdas dan aktif di jejaring di media sosial. Namun mereka juga agresif sekaligus tidak sabar melalui proses perubahan. Tidak terkecuali dalam menerima informasi.

Kepala Divisi Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) –Badan Layanan Umum (BLU) dibawah Kementerian Keuangan Achmad Maulizal Sutawijaya mengatakan Gen Y sangat haus mencari informasi di internet. Tidak terkecuali sektor sawit nasional yang memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian nasional dan jutaan petani.

Maulizal menerangkan devisa ekspor sawit dan produk turunannya mencapai US$ 19 miliar atau setara Rp 320 triliun. Apabila Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp 2.000 trilyun berarti 16% kontribusinya berasal komoditas sawit. Selain itu , sawit juga menjadi subtitusi energi fosil dari solar menjadi campuran biodisel.

Persoalaanya, di kaca mata generasi Y ini, kata Maulizal informasi di mesin pencari (search engine) yang mereka dapat bukan mustahil informasi sawit yang bias.Informasi miring yang mengemuka bahwa lahan sawit kerap kaitannya dengan deforestasi dan lingkungan hidup, perbudakan anak hingga dampak konsumsinya terhadap kesehatan tubuh.

"Mereka tidak menyadari informasi seperti ini merupakan kampanye hitam yang sengaja dimainkan Lembaga Swadaya Asing (LSM) asing . Kampanye hitam yang disponsori produsen-produsen minyak nabati di Uni Eropa, Amerika Serikat dan Amerikat Selatan yang notabene merupakan kompetitor komoditas sawit," ujar Maulizal kepada wartawan usai Palm Oil Edu Talk to School di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendikia Serpong, kemarin.

Bahkan dalam ujian sekolah sekolah menengah umum, menurut Maulizal ditemukan pertanyaan jenis tanaman perusak lingkungan yang jawabnnya mengarah kepada sawit. Sementara pilihan jawabannya tanaman lainnya adalah kopi dan teh. Hal ini mengartikan missleading informasi terkait komoditas sawit juga terjadi di level pendidik.

Karena itu kegiatan edukasi di kalangan pelajar sejak dini terus dilakukan . Untuk tahap pertama akan dilakukan di Jabodetabek. Diharapkan dengan edukasi seperti ini terbentuk pemahaman yang baik tentang sawit sejak dini.

"Tujuan ke kampanye positif dan hal sebenarnya tentang manfaat kepala sawit. Gen Y adalah generasi yang kritis. Tidak percaya begitu saja. Mereka akan mencari informasi sendiri ," tegasnya.

Maulizal mengingatkan jangan lagi pengalaman pahit yang terjadi di komoditas cengkeh juga terjadi di sawit.Gerakan kampanye hitam menyebabkan luas areal tanaman dan produkvitas tanaman kian menurun. Kini asinglah yang menguasai pasar cengkeh di Tanah Air.

Tofan Mahdi, Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia mengatakan pihaknya akan terus melakukan edukasi ke institusi pendidikan. Dengan begitu, para siswa memperoleh informasi yang utuh terhadap industri sawit nasional.

"Bahkan seperti di Malaysia. Sawit itu sudah menjadi kurikulum. Sudah waktunya, anak muda atau generasi milenial Indonesia diberikan pencerahan soal sawit. Jangan biarkan berita atau informasi hoaks menguasai mereka," ungkap Tofan.

Tofan mengakui sejumlah pertanyaan siswa melontarkan pertanyaan kritis seperti pembukaan lahan sawit yang dituding sebagai biang kerok kebakaran hutan. Menurutnya, izin bagi pengusaha membuka lahan sawit itu rumit seperti perizinan yang lengkap, termasuk amdal. Dalam ketentuannya tidak boleh di hutan lindung.

Tofan menambahkan sejak 2011, pemerintah telah melakkan pelarangan membuka lahan baru atau ekspansi. Saat ini luas keun sawit di Indonesia sekitar 16 juta hektar. Sedangkan luas daratan di Indonesia sekitar 190 juta hektar dan luas area pertanian sekitar 60 juta hektar. "Artinya, luasan kebun sawit di Indonesia tidak sampai setangah dari total areal pertanian, mungkin hanya 15%-an. Dan, tidak sampai 10% dari luas daratan Indonesia," terangnya.

Selanjutnya, Tofan menerangkan belum ada satupun riset atau kajian yang menyimpulkan kenaikan suhu atau iklim di suatu daerah, disebabkan perkebunan sawit. "Jadi tidak ada relevansinya antara industri sawit dengan kenaikan suhu. Jadi jelas-jelas itu hoaks," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: