500 Importir bahan baku bakal dapat insentif

Selasa, 3 Maret 2020 | 17:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah tengah menggodok sejumlah langkah kebijakan strategis guna menjaga perekonomian yang tengah dihadapkan pada risiko pelemahan akibat sentimen wabah virus corona.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, salah satu langkah yang bakal diambil adalah menjaga kinerja sektor riil dengan membuka peluang untuk mempermudah izin impor bahan baku bagi beberapa perusahaan.

Dia bilang, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan telah mengidentifikasi 500 perusahaan importir yang bakal mendapatkan insentif tersebut.

"Kita rapat dengan Menko (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto), Presiden dan kementerian lain untuk melihat dampak selanjutnya terutama di sektor riil dengan penurunan impor bahan baku karena disrupsi produksi dan pelemahan pasar. Kita akan lihat pengaruhnya kepada industri sektoral," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Senin (2/3/2020).

"Saat ini kita terus menyiapkan dari sisi analisa, kami bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan untuk mengurangi sebanyak mungkin halangan untuk impor termasuk impor bahan baku untuk dipermudah terhadap reputable importir tanpa lagi perizinan," jelas dia.

Bendahara Negara pun mengungkapkan, 500 importir yang masuk dalam daftar perusahaan yang bakal diberi kelonggaran izin menguasai 40 persen dari keseluruhan impor bahan baku di Indonesia.

Dengan demikian diharapkan proses impor yang dipercepat juga mampu meningkatkan laju produksi di sektor riil.

Selain itu, Sri Mulyani pun menyatakan pihaknya tengah mengkaji insentif lain di bidang perpajakan untuk perusahaan-perusahaan di sektor riil yang tengah tertekan.

"Kita juga akan lihat kalau ada perusahaan yang mengalami tekanan besar seperti 2008-2009 waktu krisis ekonomi dan keuangan kita bisa melakukan beragam paket kebijakan di bidang perpajakan untuk relief kepada mereka," tandas Sri Mulyani.

Sebelumnya, Sri Mulyani sempat menyatakan kondisi perekonomian global saat ini sangat menantang. Ketika perekonomian dihadapkan pada pelemahan pertumbuhan, di saat yang bersamaan hantaman juga datang akibat penularan virus corona yang terjadi dengan begitu cepat.

Lebih lanjut dia berkata pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini diperkirakan melambat menjadi 2,8 persen. Hal itu sama dengan kondisi yang terjadi di kisaran tahun 2008-2009 ketika dunia dihadapkan pada krisis keuangan global.

"Kita pahami kondisi ekonomi global sangat menantang. Selain dihadapkan pada pelemahan ekonomi, sekarang ditambah dengan terjangkitnya virus novel corona," ujar dia. kbc10

Bagikan artikel ini: