Panic buying terkait corona, peritel pastikan penuhi kebutuhan masyarakat

Selasa, 3 Maret 2020 | 19:19 WIB ET
Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey
Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta masyarakat tidak melakukan panic buying atau pembelian secara panik terhadap berbagai barang kebutuhan utama di beragam toko-toko ritel modern. Kekhawatiran ini seiring diumumkannya dua warga yang positif terjangkit virus corona.

"Anggota peritel Aprindo selalu siap untuk hadir dan cukup dalam memenuhi kebutuhan baik pangan maupun nonpangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, dikarenakan tindakan yang over atau berlebihan ini justru membuat kepanikan atau fobia baru lainnya yang tidak perlu terjadi, di saat sebenarnya seluruh kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi dan tercukupi dengan baik," kata Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey di Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Roy membenarkan terjadinya aksi panic buying dan hal ini akan sangat merugikan masyarakat sendiri. Pihaknya meyakini saat ini pasokan, stok dan distribusi bahan pokok, perlengkapan kesehatan dasar masih terjamin. Karena publik diminta menghentikan aksi borong habis di supermarket atau toko ritel lainnya.

"Kita pastikan bahwa kita serempak untuk menjaga kestabilan harga dan kepastian stok untuk masyarakat. Panic buying ini kita harap tidak berkepanjangan. Dengan koordinasi yang intensif kita komitmen untuk menjaga keutuhan pasar," kata Roy.

Dia menjelaskan, saat ini aksi panic buying sudah mereda dan menurut catatan laporan sementara saat aksi berlangsung kemarin terjadi peningkatan transaksi rata-rata 10-15%. Dengan angka peningkatan ini diklaim masih sangat kecil jika dibandingkan dengan stok atau pasokan dari distributor. Sebab itu Aprindo meminta agar masyarakat yang masih ingin berbelanja berlebihan untuk segera menyudahinya.

Terkait dengan lonjakan harga beberapa komoditas seperti masker dan hand sanitizer, Aprindo menyangkalnya. Dari seluruh anggota asosiasi menyatakan bahwa tidak ada kenaikan harga. Kenaikan harga terjadi pada ritel-ritel atau warung yang bukan dari anggota Aprindo.

"Memang panic buying dari Jakarta lalu sorenya ke Surabaya, setidaknya ada lima enam kota namun dengan DPD kita berupaya menenangkan masyarakat bahwa tidak perlu panic buying. Soal mekanisme peningkatan harga itu tidak semudah menaikkan harga kaya self seller," terangnya.

Menurut Roy, beberapa hal yang terpenting antara lain bagaimana kalangan masyarakat bisa menjaga kesehatan diri serta keluarga. Selain itu, diharapkan berbagai pihak juga tidak cepat terpengaruh baik oleh kabar hoaks maupun berita yang tidak terpercaya yang diviralkan oleh oknum.

Namun, warga diharapkan hanya percaya dan mengikuti berita yang disampaikan kementerian dan lembaga pemerintah yang secara langsung disiarkan melalui jaringan media dan televisi terpercaya dan kompeten ke seluruh wilayah Indonesia.

Roy juga meminta agar peritel anggota Aprindo terus dan tetap melayani kebutuhan masyarakat serta mengambil tindakan atau kebijakan yang dianggap perlu untuk memastikan bahwa kebutuhan masyarakat dapat terlayani dengan cukup dan baik.

Pada kesempatan sama, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto meminta masyarakat tidak panik terkait dengan penemuan dua WNI yang positif terjangkit virus corona. Menurutnya, publik tidak bersikap berlebihan dengan melakukan pembelian barang-barang kebutuhan pokok, masker dan hand sanitizer secara berlebihan dengan alasan untuk stok di rumah.

Agus menyatakan, aksi panic buying yang dilakukan di sejumlah wilayah di Indonesia paska Presiden Joko Widodo mengumumkan dua WNI positif terjangkit virus kemarin pada akhirnya justru akan merugikan masyarakat sendiri. Prilaku panic buying akan memicu persediaan dan permintaan menjadi jomplang sehingga mendorong peningkatan harga akibat langka.

Agus bilang, sampai saat ini dan beberapa bulan kedepan persediaan bahan pokok, masker dan hand sanitizer aman jika masyarakat tidak memborongnya.

"Pemerintah menghimbau masyarakat untuk tidak panic buying karena pasokan bahan pokok cukup. Pemerintah berhati-hati dalam mengambil sikap, silahkan berbelanja namun sesuaikan dengan kebutuhan saja. Panic buying justru merugikan masyarakat karena harga menjadi tidak terkontrol," ujar Agus

Terkait dengan kabar melonjaknya harga-harga komoditas seperti masker dan hand sanitizer, Kemendag menyatakan telah melakukan koordinasi dengan asosiasi peritel dan juga asosiasi produsen untuk memastikan pasokan terjamin. Menurutnya melonjaknya harga masker dan hand sanitizer akibat dari panic buying yang dilakukan masyarakat.

"Berkaitan virus corona Kemendag tidak ada larangan ekspor masker, tapi diimbau agar eksportir memenuhi kebutuhan masker di dalam negeri terlebih dahulu, kita himbau penjual dan distributor tidak menaikkan harga masker. Untuk produk hand sanitazer juga himbaunya sama," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: