Impor raw sugar 438.000 ton, Mendag: Untuk penuhi kebutuhan industri mamin

Rabu, 4 Maret 2020 | 09:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski mendapat penolakan dari petani, pemerintah tetap menerbitkan izin impor gula kristal mentah atau raw sugar sebesar 438.000 ton. Alasannya, impor tersebut untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman (mamin).

Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto menyatakan importasi ini ditujukan untuk menambah stok dalam rangka antisipasi permintaan bulan Ramadhan dan Lebaran. Izin impor gula yang diterbitkan untuk diolah lagi .

“Saya sudah mengeluarkan beberapa persetujuan impor komoditas yang perlu tambahan stok. Gula merah yang telah digunakan bahan baku, gula kristal putih untuk konsumsi telah diterbitkan sebanyak 428.802 ton,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (3/3/2020)

Agus mengatakan, importasi sebanyak itu diyakini bakal mampu mencukupi kebutuhan industri sampai Mei 2020. Dengan kata lain, pasokan gula selama Lebaran 2020, akan tercukupi. Namun ketika ditanya kepada siapa izin itu diberikan, Agus enggan merinci lebih lanjut.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) hanya memastikan kuota itu dibagi ke perusahaan pelat merah hingga swasta. Ia juga enggan menjawab kapan izin ini keluar dan sampai kapan masa berlakunya. “Itu memerlukan proses dengan beberapa hari ke depan. Izinnya oleh beberapa perusahaan," kata dia.

Dari penjelasan Agus juga belum terang negara mana saja yang kebagian memasok gula ke Indonesia. Sebab pada Februari 2020 kemarin, Kementan menyatakan Indonesia perlu mengambil pasokan gula dari India agar ekspor sawit bisa berjalan mulus.

Di sisi lain Indonesia saat ini juga biasa melakukan importasi gula dari Australia. Untuk Australia sendiri, Indonesia belum lama ini juga sudah meratifikasi perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) Februari 2020 lalu.

Kuota impor gula yang diizinkan Agus diperkirakan melebihi perkiraan kebutuhan yang dipatok Kementerian Pertanian sebesar 130.000 ton sampai Lebaran 2020, berhubung setelahnya mereka akan panen tebu. Estimasi kebutuhan BULOG pada 19 Februari 2020 juga jauh di bawah itu dengan kisaran 200.000 ton saja. Dengan demikian ada selisih 230.000-300.000 ton dengan total izin impor yang dikabulkan Kemendag dari kebutuhan.

Kuota impor gula yang berlebihan berdampak pada petani tebu. Pada Januari 2019, petani tebu terpuruk. Lahan pertanian tebu terus menyusut dan revitalisasi pabrik penggilingan tebu juga tak berjalan. Alhasil sempat timbul kekhawatiran Indonesia semakin dimabukan impor gula.  

Pasalnya petani beranggapan masih terdapat stok di awal tahun 2020 sebesar 1,35 juta ton. Volume gula sebesar itu mencakup 1,080 juta ton sisa stok tahun 2019 dan 270.000 ton yang merupakan sisa impor gula kristal putih (GKP).

Namun keluhan petani itu tidak membuat pemerintah merubah haluannya.Izin impor gula ini sekaligus memberikan respon atas naiknya harga komoditas ini yang telah menembus Rp 14.5000 /kilogram (kg), melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sebesar Rp 12.500/kg. Bahkan Kemendag mengaku telah mengeluarkan izin untuk impor gula mentah selama satu semester 2020 sebesar 1,5 juta ton.kbc11

Bagikan artikel ini: