Gapmmi: Tak mudah cari subsitusi impor selain China

Rabu, 4 Maret 2020 | 23:26 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku usaha makanan dan minuman mengaku tidak mudah mencari subsitusi negara tujuan impor selain China. Pasalnya, selama ini perusahaan makanan dan minuman secara tidak langsung bergantung pada impor dari negeri tirai bambu tersebut.

Hal itu mencuat pasca menyebarnya wabah virus corona, dan banyaknya negara yang membatasi impor barang dari China.

"Untuk substitusi tidak semudah itu karena memang ini kan baru terjadi dan kami sedang menjajaki negara-negara pengganti," kata Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman, Selasa (3/3/2020).

Meski begitu, Adhi mengaku tidak semua akan disubstitusi karena terkait perjanjian dagang dan ada juga yang terkait aspek-aspek khusus yang hanya diproduksi oleh China. Ditambah dengan adanya bukti bahwa produk substitusi dari negara lain harus memiliki sertifikat halal.

Adhi mengatakan, ada beberapa negara bila nantinya substitusi impor jadi dilakukan. Diantaranya Australia, New Zealand, Vietnam, Thailand dan India. Sementara untuk bahan baku produk yang dijadikan jus buah kemungkinan negara substitusi bisa berasal dari negara Afrika.

"Kami sedang menjajaki. Ada yang lebih mahal dari China. Ada yang kompetitif. Memang tidak mudah. Tapi jujur memang ada sedikit lebih mahal dari China," ujar dia. kbc10

Bagikan artikel ini: