Dunia usaha minta pemerintah simplifikasikan prosedur bahan baku industri

Kamis, 5 Maret 2020 | 21:42 WIB ET
Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani
Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani berharap agar pemerintah memberikan kemudahan pada dunia usaha untuk mencari substitusi supplier bahan baku. Sebab, disrupsi produksi dari China akibat virus corona menyebabkan ketersediaan bahan baku maupun penolong untuk industri Indonesia pun mengalami gangguan.

Rosan mencatat kontribusi impor dari China mencapai 26 persen dari total impor Indonesia. Tiga produk teratasnya adalah bahan baku untuk elektronik, laptop dan layar datar yang banyak digunakan untuk sektor elektronik Indonesia.

Sejak outbreak virus corona pada akhir tahun, pengiriman tiga produk ini pun menjadi terhambat. Apalagi, dari seluruh total impor China, sebanyak 50 persen di antaranya merupakan produksi Wuhan. "Ini kita minta untuk berikan relaksasinya," ujar Rosan ditemui usai Business Law Forum 2020 di Jakarta, Kamis (5/3/2020).

Rosan mengatakan, mencari negara pengganti China tidaklah mudah. Pasalnya, banyak negara yang juga mengalami kekurangan supply akibat virus corona telah menghambat proses produksi mereka. Dari sisi kualitas pun, belum tentu bahan baku yang mereka hasilkan sebagus produk dari China.

Kemudahan yang dimaksud Rosan berupa mensimplifikasi prosedur perizinan maupun pemberian insentif fiskal kepada industri. Dengan fasilitas ini, dia berharap dunia usaha dalam negeri yang selama ini bergantung pada bahan baku dan penolong dari China dapat mencari negara lain sebagai substitusi. Dampaknya, kinerja produksi domestik pun dapat membaik.

Rosan menyebutkan, penyebaran virus corona memberikan shock kepada ekonomi Indonesia melalui tiga sisi, yakni supply, permintaan dan produksi. Saat ini, pemerintah sebaiknya fokus membuat regulasi untuk mengatasi perlambatan dari tiga sisi ini melalui kemudahan impor.

Rosan menekankan, kebijakan kemudahan impor ini memang hanya solusi bersifat jangka pendek. Untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah harus mempertimbangkan pembangunan industri yang dapat memproduksi bahan baku dan penolong. "Ini yang coba kita sampaikan ke pemerintah," katanya.

Solusi jangka menengah yang juga disampaikan Rosan adalah Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja. Menurutnya, keberadaan regulasi ini akan mereformasi ekonomi Indonesia secara struktural. Khususnya dalam rangka mengantisipasi dampak corona yang diperkirakan akan berlangsung lama.

Kesempatan sama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah sudah mencanangkan paket stimulus kedua untuk mendorong kinerja industri di tengah perlambatan ekonomi global akibat corona. Paket ini melengkapi paket sebelumnya yang sudah dirilis pekan lalu dengan fokus mendorong konsumsi rumah tangga.

Airlangga menjelaskan, nilai paket stimulus kedua ini akan lebih besar dibandingkan paket pertama yang sebesar Rp 10,3 triliun. "Dalam hal ini, kita memudahkan proses impor dan ekspor pengusaha kita," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: