Pengamat sebut gelombang PHK bukan dampak virus corona

Jum'at, 6 Maret 2020 | 22:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dinilai merupakan puncak dari pelemahan ekonomi selama beberapa waktu terakhir. Kondisi itu diperparah dengan wabah virus corona yang merebak sejak akhir tahun lalu.

"(Wabah virus) corona baru 2 bulan, menurut saya PHK itu bukan dikarenakan virus corona, tidak ada perusahaan yang dihantam permasalahan dua bulan langsung kolaps," ujar Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah , Jumat (6/3/2020).

Piter menilai pelemahan ekonomi telah terasa sejak 2015, saat harga komoditas andalan, seperti karet dan kelapa sawit terus anjlok. Ketergantungan Indonesia akan ekspor komoditas menjadikan perekonomian Indonesia rentan.

Dalam mencermati fundamental ekonomi, Piter juga menyorot indeks optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi yang kian merosot. Tercatat, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2020 turun 3,7 persen dibandingkan Desember 2019 menjadi 121,7. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, 125,5.

Indikator lainnya, kata Piter, adalah indeks penjualan ritel. Sejak Agustus 2019, indeks penjualan ritel Indonesia terlihat konsisten di level mengkhawatirkan.

Yang terburuk tercatat pada Agustus 2019 sebesar minus 1,8 persen dan Februari 2020 minus 0,5 persen. Desember yang menjadi bulan surga belanja pun tak berhasil mengangkat penjualan ritel karena hanya mencatatkan pertumbuhan 3,6 persen.

"Indikator Purchasing Manager Index (PMI) terus turun, kemarin memang sempat naik tapi ini menimbulkan pertanyaan di tengah memuncaknya virus corona," kata Piter.

Kendati demikian, Piter tak menampik sentimen virus corona menambah beban ekonomi. Kekhawatiran terhadap virus corona membuat aktivitas industri hingga pariwisata terganggu. Alhasil, sejumlah perusahaan mengurangi jumlah pegawai.

Senada, Ekonom Indef Abra PG Talattov menyebut jauh sebelum adanya virus corona, sektor ketenagakerjaan Indonesia tak menunjukkan angka yang menggembirakan. Hal itu tercermin dari industri padat karya seperti manufaktur yang selalu tumbuh di bawah angka pertumbuhan ekonomi.

Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan sektor manufaktur pada kuartal III 2019 sebesar 4,68 persen atau melambat sebesar 0,34 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, 5,02 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi pada 2019 adalah 5,02 persen dan 5,17 persen pada 2018.

Menurut dia, tantangan utama pemerintah adalah untuk meningkatkan investasi yang dapat menyerap tenaga kerja yang terus bertambah. Sementara, virus corona tak hanya menghambat laju investasi namun juga memukul pekerja di pasar dan industri yang sudah ada.

"Sebelum corona, tekanan ekonomi kita sudah besar, tercermin dari pertumbuhan ekonomi 5 tahun kemarin sudah stagnan. Sebelum corona juga ada resiko penurunan manufaktur dan pengurangan tenaga kerja," paparnya.

Sekadar diketahui, gelombang PHK terjadi pada awal tahun ini. Beberapa di antaranya dilakukan oleh PT Indosat Tbk, LKBN Antara, PT Alpen Food Industry (AFI), hingga pengusaha vila dan agen perjalanan di sektor pariwisata.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan persoalan virus corona lebih kompleks ketimbang krisis ekonomi 2008 silam. Hal ini disebabkan wabah virus corona langsung berdampak pada psikologis dan kesehatan manusia, hingga sektor riil.

Sementara, risiko dari krisis keuangan 2008 silam lebih menyasar ke sektor keuangan dan korporasi. kbc10

Bagikan artikel ini: