Bupati Azwar Anas: Perlu kolaborasi dan pengendalian ruang bersama sambut percepatan JLS

Rabu, 11 Maret 2020 | 04:39 WIB ET

SURABAYA – Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas merespons gembira percepatan pengembangan jalan pantai selatan Jawa atau yang biasa dikenal dengan sebutan Jalur Lintas Selatan (JLS) Jawa Timur. Hal itu seiring diterbitkannya Peraturan Presiden 80/2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan, Kawasan Bromo-Tengger-Semeru, serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan.

”Saya kira ini kabar gembira yang ditunggu banyak orang, termasuk masyarakat Banyuwangi, karena dampaknya akan sangat signifikan dalam mendorong ekonomi lokal,” ujar Bupati Anas dalam diskusi ”Pengembangan Kawasan Selatan Jatim” yang digelar PWI Jatim, Harian Kompas, dan Kadin Jatim di Surabaya, Selasa (10/3/2020). 

Anas menjadi pembicara bersama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Ketua Kadin Jatim Adik Dwi Putranto, dan pengamat ekonomi kawasan Hadi Prasetyo.

Selama ini, pembangunan JLS belum tuntas semuanya, termasuk di Banyuwangi. Padahal, akses JLS bisa menjadi stimulus ekonomi baru bagi Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. 

Anas mengatakan, penyelesaian JLS bakal mengurangi disparitas antara wilayah selatan dan utara. Selama ini kesejahteraan warga di wilayah selatan Jatim selalu lebih rendah dibanding kawasan utara. Pendapatan per kapita dua kawasan itu timpang. Pusat ekonomi dengan infrastruktur memadai dan SDM unggul memusat di utara dengan Surabaya sebagai episentrumnya. 

”Nah, dengan JLS menjadi salah satu jalan mengoreksi disparitas spasial tersebut. Presiden Jokowi sudah meneken Perpres-nya, dan Gubernur Jatim Bu Khofifah juga telah bergerak sangat cepat roadshow ke berbagai kementerian untuk merealisasikannya. Bahkan, Bu Khofifah sudah turun ke sejumlah lot JLS,” ujar Anas.

Anas menambahkan, untuk mengoptimalkan JLS, diperlukan kolaborasi antar-kabupaten dan pengendalian kawasan secara bersama.

“Kita rumuskan kluster-kluster pengembangannya. Bikin pengendalian kawasan bersama lewat tata ruang yang baik. Fokus utamanya saya kira ada pengembangan pariwisata dengan melibatkan komunitas rakyat setempat dan berbasis ekoturisme, karena view dan destinasi di sepanjang jalur sangat indah,” ujarnya.

Anas mencontohkan, Jember dan Banyuwangi bisa memadukan potensi pariwisata dan pertanian di sepanjang JLS secara bersama-sama. Sehingga dari Pantai Papuma Jember, wisatawan bisa berpelesir ke Banyuwangi dan sebaliknya.

”Tentu pembangunan infrastruktur ini juga harus dibarengi dengan pengembangan SDM dan introduksi inovasi teknologi baru untuk mengangkat potensi pertanian dan perikanan sepanjang jalur tersebut,” jelas Anas yang juga ketua umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

Anas menggarisbawahi pengendalian dan penataan ruang bersama di jalur tersebut. “Tidak bisa misalnya di jalur tersebut ada kawasan industri atau pergudangan, karena akan merusak konsep besarnya,” imbuh Anas.

Anas optimistis, dengan sinergi yang baik dan pengendalian kawasan, pembangunan JLS bakal mempercepat pergerakan ekonomi wilayah selatan. Kantong-kantong kemiskinan yang cukup banyak di kawasan selatan bisa segera diatasi, antara lain dengan pengembangan pariwisata di sepanjang jalur tersebut.

Seperti diketahui, pembangunan JLS membentang dari Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. Jaraknya sekitar 700 kilometer.

Bagikan artikel ini: