Ingin sumbang ekonomi 10 persen, ini yang harus dilakukan koperasi

Rabu, 11 Maret 2020 | 11:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pengembangan koperasi di Indonesia selama ini memang masih lamban. Namun seiring dengan perkembangan teknologi dan infirmasi, ke depan sektor ini ditargetkan bisa memberikan kontribusi sebesar 10 persen atau tumbuh dua kali lipat terhadap perekonomian nasional. Salah satunya melalui pengembangan platform digital dengan menyasar millenial.

Hal itu disampaikan Executive Co Chairman Nasari Group Frans Meroga Panggabean, mewakili Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia (Askopindo) usai bertemu Wakil Presiden Ma’ruf Amin di kantornya, Selasa (10/3/2020).

Frans mengakui bahwa kontribusi koperasi terhadap ekonomi nasional masih mandeg di angka 5 persen. Untuk itu, dia menggagas akselerasi pertumbuhan koperasi dengan menyasar millenial.

“Sekarang ada stigma koperasi old fashioned, jadul, membuat itu jadi lambat. Nah, dengan era digitalisasi, generasi milenial dengan menumbuhkan rasa cinta koperasi menjadi pendobraknya. Dalam kurun waktu 4 tahun ke depan bisa sampai 10 persen,” tutur Frans.

Sementara Chairman Nasari Sharia Cooperative Chandra Saritua mengatakan pihaknya bersama asosiasi telah merumuskan dua langkah strategi percepatan pertumbuhan koperasi.

Pertama, membangun ekosistem close loop melalui kerja sama antarlembaga keuangan mikro seperti koperasi, bank wakaf mikro, dan badan usaha milik desa (BUMdes). Keterlibatan pihak-pihak tersebut akan dijembatani melalui pembuatan platform digital.

“Jadi dengan super app, menciptakan marketplace. Koperasi juga nanti bisa menggunakan e-wallet. Jadi antar anggota koperasi juga bisa saling bertransaksi,” terangnya.

Kedua, usulan perumusan peraturan presiden (perpres) untuk mendorong percepatan pembangunan ekonomi kerakyatan. “Apakah nanti bisa dibentuk badan nasional percepatan yang berkoordinasi dengan 18 kementerian yang mempunyai program UMKM supaya visi misi Bapak Presiden dan Wapres mencapai kemiskinan nol persen bisa terealisasi,” tutur Chandra.

Chandra mengungkapkan platform koperasi berbeda dengan fintech peer-to-peer (P2P) lending yang sudah banyak bermunculan saat ini. Platform digital ini menawarkan pinjaman maksimal Rp10 juta. Dananya berasal dari badan usaha berupa koperasi atau badan wakaf mikro berlisensi yang tepercaya.

Berdasarkan data Askopindo saat ini sudah ada sekitar 20 juta nasabah koperasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Adapun total pembiayaan akumulasi yang telah disalurkan koperasi mencapai Rp150 triliun.

Kendati koperasi kebanyakan melayani nasabah di daerah pinggiran, penggunaan internet di kalangan millenial menjadi sinyal positif bagi langkah perubahan ini sehingga diterima oleh generasi muda di pedesaan. Hanya saja dibutuhkan edukasi agar mereka mengenal produk tersebut. kbc10

Bagikan artikel ini: