Akibat corona, petani kopi tak lagi dikunjungi pembeli asing

Jum'at, 13 Maret 2020 | 13:02 WIB ET

PASURUAN, kabarbisnis.com: Merebaknya virus corona telah menyebabkan kinerja ekonomi Indonesia di banyak sektor terkendala. Banyak pengusaha bahkan petani mengeluh iklim usaha tak lagi seperti biasanya, termasuk petani yang berdomisili di Desa Tutur Kecamatan Tutur Pasuruan.

Ida Irawati, Petani kopi asal dusun Gunungsari Desa Tutur Kecamatan Tutur Pasuruan mengatakan bahwa sejak akhir 2019 tak ada lagi wisatawan asing yang berkunjung dan membeli produk kopi di desa wisata kopi yang ia kelola. Padahal biasanya, ada sekitar tiga hingga empat rombongan wisatawan dari sejumlah negara yang berkunjung untuk belajar dan membeli produk kopi yang dihasilkan. Sebagian besar wisatawan tersebut datang dari Belanda, Jerman, Italia, Australia, Malaysia dan Korea.

"Saya kan tidak hanya menjual kopi, tetapi kebun saya yang luasnya sekitar 3,5 hektar itu saya konsep menjadi wisata edukasi kopi. Dan biasanya banyak rombongan wisatawan asing yang datang ke sini, tetapi sejak ada kasus virus Corona, tidak ada lag wisatawan asing yang datang," ujar Ida ditemui saat kunjungan PUM Netherland Senior Expert dan Kadin Jatim di KPSP Setia Kawan Tutur Pasuruan, Jumat (13/3/2020).

Lebih lanjut ia bercerita jika sebenarnya ada sekitar 25 petani kopi yang ada di Gunungsari dengan lahan kopi yang dikelola seluas 53 hektar. Sementara total lahan kopi di desa Tuturencapai 3500 hektar. Jenis kopi yang ditanam di Gunungsari Tutur adalah jenis kopi robusta. Biasanya mereka menjual ke pengepul dengan harga murah dan dibawa ke Dampit Malang. 

Namun sejak tahun 2015 mereka mulai mengolah sendiri dma dijual dalam bentuk biji sangrai atau bahkan bubuk kopi. Dengan langkah tersebut, maka kesejahteraan mereka mulai terangkat. 

"Untuk saat ini, kami sudah mengembangkan wisata edukasi kopi. Disini wisatawan bisa belajar mulai hulu hingga hilir, mulai dari proses penanaman hingga penyeduhan kopi. Banyak yang senang sehingga tertarik untuk berkunjung. Dengan adanya Corona, kami berupaya menarik wisatawan dalam negeri," katanya.

Walaupun tak lagi ada wisatawan mancanegara yang berkunjung, ia mengaku kondisi tersebut tidak begitu mengkhawatirkan karena masih banyak wisatawan lokal yang juga berminat. 

Menurut pengakuannya, total jumlah kunjungan wisatawan ke desa tersebut sebelum adanya corona sekitar 200 orang, 50 orang di antaranya turis asing. Namun untuk saat ini turis asing sudah tidak ada. Tapi untuk turis lokal masih ada kunjungan, sekitar 100 sampai 150 orang setiap bulannya.

"Apalagi penjualan kopi terbesar juga bukan dari wisatawan asing yang datang. Penjualan kopi kami terbesar tetap pasar dalam negeri. Dan kami jualnya secara online," katanya.

Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim diakui tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke wilayah setempat melalui pintu masuk Juanda pada Januari 2020 turun sebesar 17,03 persen, dibandingkan jumlah kunjungan wisman bulan Desember 2019, yaitu dari 20.546 kunjungan menjadi 17.047 kunjungan.

Dominasi kunjungan adalah wisatawan berkebangsaan Malaysia yang mencapai 4.603 kunjungan atau turun 29,77 persen.

Kemudian, diikuti kebangsaan Singapura dengan 1.873 kunjungan atau turun 40,52 persen, dan kebangsaan Tiongkok sebanyak 1.784 kunjungan atau turun sebesar 6,65 persen dibandingkan Desember 2019.kbc6

Bagikan artikel ini: