Kunjungan turis drop 20%, industri pariwisata di Bali mulai rumahkan karyawan

Senin, 16 Maret 2020 | 10:11 WIB ET

DENPASAR, kabarbisnis.com: Jumlah kunjungan Wisatawan Mancanegara (Wisman) atau turis ke Bali per hari saat ini masih di kisaran 11 ribu orang. Angka ini diprediksi turun 20 persen dibanding kondisi normal.

"Saya dapat data dari imigrasi, sampai tanggal 1 sampai 9 (Maret) kemarin rata-rata kedatangan turis masih diangka 10.500 atau sampai 11 ribu per hari," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Putu Astawa di Denpasar, Bali, Minggu (15/3/2020).

Menurutnya dari 11 ribu yang datang, turis terbanyak dari Australia, kemudian juga ada Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia. Astawa mengatakan, jika per hari kedatangan wisman sekitar 11 ribu dikali 30 hari bisa mencapai 330,000 di bulan ini.

Namun, jika dibandingkan dengan bulan yang sama dengan tahun sebelumnya 2019, terjadi penurunan sekitar 20 persen karena tahun sebelumnya mencapai 430,000 orang.

"Ada penurunan sekitar 20 persen, kalau kita bandingkan antara bulan yang sama tahun lalu dengan tahun sekarang," Imbuhnya.

Dia juga mengatakan, penurunan 20 persen terjadi karena ditutupnya penerbangan China dari dan ke Bali akibat imbas virus corona atau covid-19 Selain itu, juga di Bulan Maret adalah low season.

"Penurunannya, itu karena di samping karena low season (dan) penutupan penerbangan dari China. Itu rata-rata (turis China) mereka perbulan datanya sekitar 100 ribu, dan memberikan kontribusi di samping low season tadi," jelasnya.

Astawa juga menyampaikan, untuk wisata yang terdampak dari penurunan itu yaitu di kawasan Benoa, Sanur, Nusa Lembongan dan Nusa Penida. Kemudian, rata-rata tamu China itu menginap di daerah Ubud, Kuta dan Nusa Dua.

Sementara untuk tingkat rata-rata okupansi hunian hotel juga terdampak hingga 20 persen. "Kalau dalam low season seperti sekarang itu kan 60 persen paling banyak. Tapi sekarang adanya corona itu mungkin 15 sampai 20 persen," ujarnya.

Dia juga mengatakan, dampak dari virus corona belum ada karyawan yang dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tapi hanya dirumahkan untuk sementara hingga keadaan pulih kembali.

"Kalau saya dengar dirumahkan bukan di PHK. Terutama yang restoran-restoran 100 persen (market) China itu dirumahkan. Tapi mereka paham tidak selamanya tapi sementara sehingga suatu saat dipakai lagi kalau PHK besar-besaran tidak ada," jelasnya.

Astawa juga menyampaikan, dengan imbas virus corona itu, dari pemerintah memprediksi sekitar tiga bulan akan pulih kembali pariwisata di Bali. Namun, untuk normal diperkirakan di akhir tahun 2020.

"Kalau pemerintah memprediksi dua skenario. (Pertama) ada yang 3 bulan pulih. Setelah itu 3 bulan lagi pemulihan citra dan ekonomi. Skenario kedua, 6 bulan sehingga akhir tahun baru normal kembali," ujar Astawa. kbc10

Bagikan artikel ini: