BULOG siap guyur gula impor seharga Rp10.500/kg

Kamis, 19 Maret 2020 | 09:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perum BULOG akan mendatangkan gula kristal putih (GKP) impor atau konsumsi sebanyak 50.000 ton terhitung dua pekan ke depan atau di akhir bulan.

Rencananya gula ini  akan disalurkan ke pasar dengan harga Rp 10.500 per kilogram. Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum BULOG Tri Wahyudi Saleh mengatakan penjualan tersebut di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 12.500 per kilogram (kg).

BULOG berharap masuknya gula impor dapat menurunkan harga gula yang saat ini di atas Rp 18.000/kg. Menurut Tri Wahyudi impor gula ini merupakan penugasan pemerintah guna meredam gejolak harga. “Kami akan mengguyur ke semua wilayah," kata Tri Wahyudi di  Jakarta, Rabu (18/3/2020). 

Tri Wahyudi mengatakan impor gila ini akan datang dari India atau Thailand. Sedangkan penetapan harga jual telah disepakati oleh pemerintah dalam rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian beberapa waktu lalu.

Dia juga memastikan, gula tersebut tidak hanya dijual di pasar tradisional saja namun untuk menambah pasokan di ritel modern. Adapun, pengadaan gula tersebut dilakukan menggunakan dana pinjaman perbankan. 

Selain gula kristal putih, Bulog melalui anak usahanya PT Gendhis Multi Manis (GMM) akan mengimpor gula kristal mentah sebanyak 29.750 ton. Setibanya di Tanah Air, gula tersebut akan diolah menjadi gula kristal putih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. 

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto menuding naiknya harga gula konsumsi karena ada oknum yang sengaja menahan pasokan. Hal itu dipicu oleh spekulasi yang berkembang setelah wabah virus corona (Covid-19) merebak di sejumlah negara. "Pihak-pihak tak bertanggung jawab ini yang menahan pasokan," kata Suhanto.

Direktur Sugar Group Companies Irawan Ang mengatakan terdapat aksi spekulan yang memborong gula dalam partai besar di ritel modern yang dijual Rp 12.500/kg.Hasil dari pembelian tersebut kemudian dijual kembali di pasar tradisional dengan harga yang jauh lebih tinggi. Hal itu pun sangat memungkinkan karena pasar sejatinya tidak memiliki kontrol untuk menerapkan HET seperti di ritel modern.

Aksi-aksi spekulan itu dinilai muncul karena adanya sinyal penurunan produksi gula sebagai dampak dari kemarau panjang tahun 2019. Di satu sisi, permintaan gula juga tengah mengalami kenaikan dipicu oleh berbagai faktor di dalam negeri.

Irawan menjelaskan, rata-rata kapasitas produksi Sugar Group per tahun sebanyak 300.000 ton. Kontribusinya hanya sebesar 6-7% dari kebutuhan gula nasional yang mencapai 6 juta ton.

Perusahaan harus menyiapkan pasokan GKP hingga dua kali lipat dari kebutuhan normal di bulan April dan Mei yang bertepatan dengan moment Ramadahan dan Lebaran.Menurutnya perusahaan menghasilkan 100%gula tebu petani dari perkebunan seluas 600.000 ton

Menurutnya Sugar Group akan memastikan ketersediaan gula hingga bulan Juli mendatang di mana stok gula yang baru akan mulai diproduksi oleh pabrik.

"Biasanya kita panen dan giling bulan April, tapi karena puasa, tidak ada yang kerja sehingga kita putuskan giling tebu mulai Juni. Bulan Juli baru bisa hadir gula yang baru. Kita akan pastikan stok gula cukup supaya tidak ada kekurangan," ujarnya.

Ditambahkan untuk mengisi kebutuhan dalam negri memang dibutuhkan bantuan gula impor. "Kita harus tingkatkan terus produktivitas.Kemarau panjang menyebabkan produktivitas turun Mudah-mudahan tahun ini produksinya lebih baik, minimal naik 10 persen," ujarnya.

Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menyatakan produksi gula dalam negeri pada tahun ini diperkirakan menurun karena imbas kemarau panjang yang terjadi pada tahun 2019. Sepanjang tahun ini, produksi gula diproyeksikan mencapai 2,05 juta ton atau lebih rendah 6,8% dari 2019 sebesar 2,2 juta ton.kbc11

Bagikan artikel ini: