Dukung upaya stabilisasi harga, DPR RI minta warga menengah-atas tak panic buying

Jum'at, 20 Maret 2020 | 17:36 WIB ET

SURABAYA – Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi masalah perdagangan, Mufti Anam, mengajak seluruh komponen warga untuk tidak melakukan panic buying alias memborong barang kebutuhan pokok dalam skala besar di tengah kekhawatiran penyebaran virus corona alias Covid-19 saat ini.

”Jangan ada panic buying, karena yang rugi semua masyarakat nantinya, terutama kelompok menengah ke bawah yang tidak punya kemampuan untuk membeli barang kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Saya sudah cek di beberapa pedagang, sebelum ada keputusan pembatasan pembelian kebutuhan pokok, yang memborong barang mayoritas kelas menengah ke atas,” ujar Mufti kepada wartawan, Jumat (20/3/2020).

Mufti mendukung upaya Presiden Jokowi dalam melakukan stabilisasi harga. Sejumlah langkah telah ditempuh untuk memastikan ketersediaan stok bahan kebutuhan pokok hingga Lebaran mendatang. 

”Termasuk kebijakan untuk membatasi pembelian sejumlah bahan pokok harus didukung. Ini butuh kesadaran bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Saatnya seluruh rakyat Indonesia kompak, bergotong royong, dalam situasi yang tak mudah ini,” ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Mufti mengatakan, saat ini harga sejumlah bahan kebutuhan pokok memang melonjak, seperti minyak goreng, cabai rawit, dan bawang. Kemudian juga gula yang tembus kisaran Rp16.000-Rp17.000 per kilogram. 

”Semoga beberapa langkah stabililisasi lewat operasi pasar maupun penambahan suplai ke pasar walaupun itu lewat impor bisa menstabilkan harga di pasar. Selain itu beberapa komoditas akan masuk panen seperti cabai yang panen sekitar Maret sampai Mei; pasti itu juga turut mengoreksi harga. Intinya, kalau semua tidak membeli berlebihan, stok cukup,” ujarnya.

Mufti Anam menambahkan, pihaknya meminta kepada Kementerian Perdagangan untuk juga memperhatikan rantai pasok bahan baku sejumlah pelaku usaha di Tanah Air yang terhambat karena masalah pandemik corona ini. Hal tersebut terutama terkait bahan baku dari Tiongkok yang mulai seret datang ke Indonesia. 

”Saya sudah cek ke beberapa pelaku usaha, jika pandemik ini terjadi sekitar 3 bulan, stok bahan baku, barang modal, maupun komponen lain yang berbasis impor masih mencukupi. Tapi jika berlangsung lebih lama, mereka akan kesulitan bahan baku. Produksi terganggu, barang langka, dan berpotensi melambungkan harga sejumlah barang,” ujarnya. 

”Sehingga, Kemendag perlu mendorong pencarian sumber impor baru di luar Tiongkok. Kita semua berharap masalah ini segera berlalu agar ekonomi Indonesia bisa kembali stabil dan tumbuh,” pungkas politisi kelahiran Banyuwangi tersebut. kbc9

Bagikan artikel ini: