Penerapan kerja dan belajar dari rumah bikin penjualan laptop meningkat

Rabu, 1 April 2020 | 09:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Penerapan physical distancing atau jaga jarak aman untuk meminimalisir risiko penularan virus corona atau Covid-19 dengan bekerja atau belajar dari rumah banyak dimanfaatkan masyarakat di seluruh dunia untuk memanfaatkan jaringan internet dan melakukan segala hal serba virtual.

Perubahan gaya kerja dan sekolah ini rupanya berdampak pada peningkatan permintaan laptop dan perangkat pendukung lain, termasuk internet. Padahal, sejumlah pabrikan laptop dan komponennya memprediksi penurunan permintaan akibat lesunya ekonomi global sebagai dampak pandemi virus corona.

Namun, permintaan di retailer rupanya meningkat berkat aturan kerja dari rumah. Di Jepang, pabrikan laptop Dyanbook mengaku banyak mendapat permintaan laptop.

Hal yang sama juga dialami kompetitornya, NEC yang menawarkan laptop yang ramah tele-working, seperti menyematkan speaker yang lebih bertenaga di laptopnya. Vendor asal Korea Selatan, Samsung, juga melaporkan kenaikan 20 persen untuk ekspor material semikonduktor.

Di Australia, salah satu retailer elektronik JB Hifi melaporkan, selain ada peningkatan permintaan untuk sejumlah perangkat pendukung kerja dan belajar dari rumah, penjualan perabot rumah juga naik. 

Banyaknya orang yang bertatap muka secara virtual juga membuat lalu lintas internet semakin padat. Walhasil, kapasitas pusat data yang dibutuhkan akan lebih banyak untuk menampung trafik.

"Lebih banyak orang yang bekerja dan belajar dari rumah selama pandemi, ada peningkatan permintaan layanan internet, artinya pusat data membutuhkan pipa lebih besar untuk menampung trafik," jelas Park Sung-soon, analis dari Capr Investment & Securities, seperti dikutip, Selasa (31/3/2020).

Hal itu turut diamini oleh salah satu pejabat dari Kementerian Perdagangan Korea Selatan. Menurutnya, layanan cloud mendorong penjualan chip server.

China, negara yang paling awal menyelenggarakan karantina akibat wabah corona, lebih dulu mengalami peningkatan permintaan chip server.

Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa di sana, seperti Alibaba, Tencent, dan Baidu, bergegas merespons kebijakan pemerintah setempat kala itu yang melakukan karantina wilayah.

"Perusahaan cloud membuka platform mereka, membuka pintu bagi pengguna lama dan baru untuk menggunakan sumber daya mereka lebih banyak secara gratis untuk mendukung operasi ini," kata analis Canalys, Yih Khai Wong. 

Menurut Wong, apa yang dlakukan perusahaan telekomunikasi China menjadi preseden baik bagi negara-negara yang sekarang sedang mengalami karantina wilayah. Tingginya permintaan akan infrastruktur cloud turut mendorong kenaikan harga chip. 

Harga chip DRAM dilaporkan naik 6 persen sejak 20 Februari lalu, menurut data dari situs pelacak harga DRAMeXchange. Selain karena permintaan tinggi, kenaikan harga juga disebabkan oleh tersendatnya pasokan.

Dari survei yang dilakukan asosiasi kelompok dagang industri elektronik, IPC International, sekitar 69 persen produsen elektronik, memprediksi kemungkinan keterlambatan pemasokan yang memakan waktu rata-rata tiga minggu.

Setengah dari responden berharap bisnisnya kembali normal sekitar bulan Juli mendatang. Tiga perempat responden lainnya memperkirakan bisnisnya kembali normal bulan Oktober mendatang. kbc10

Bagikan artikel ini: