Twitter klaim hapus 1.100 kicauan hoaks terkait Covid-19

Jum'at, 3 April 2020 | 12:41 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sejak pandemi virus corona (Covid-19) merebak, banyak informasi yang tak bisa dipertanggung jawabkan terkait virus tersebut berseliweran di sosial media.

Melihat situasi ini, Twitter pun tak tinggal diam. Sejak 18 Maret lalu Twitter mencatat telah menghapus lebih dari 1.100 kicauan yang mengandung hoaks terkait virus corona. Jumlah tersebut terhitung sejak Twitter memberlakukan kebijakan konten baru pada 18 Maret 2020. 

Dalam kebijakan tersebut, Twitter menyatakan akan menghapus kicauan berisi informasi menyesatkan terkait virus corona. Dalam kebijakan itu, Twitter melarang kicauan yang bertentangan dengan rekomendasi dari otoritas kesehatan lokal dan global.    

Selain itu, Twitter juga menindak tegas akun-akun yang menyebarkan spam serta bertindak manipulatif dalam membuat percakapan yang terjadi di dalam platform.  

"Sistem kami juga menindak tegas 1,5 juta akun yang melakukan manipulasi terhadap diskusi terkait Covid-19 yang terjadi," tulis pihak Twitter. 

Kendati demikian, Twitter tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai informasi menyesatkan seperti apa saja yang dihapus dari platform-nya. Kebijakan itu pun membuat Twitter tak pandang bulu untuk menghapus kicauan yang menyesatkan. 

Bahkan, kicauan dari petinggi pemerintah sekelas presiden pun turut dihapus jika mengandung informasi menyesatkan.  Pekan lalu, Twitter menghapus dua kicauan dari akun presiden Brasil, Jair Bolsonaro. 

Salah satu di antaranya berisi sebuah video yang mempertanyakan anjuran social distancing. Ada pula kicauan dari Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang sempat merekomendasikan minuman herbal untuk menyembuhkan virus corona. Kicauan itu pun dihapus oleh pihak Twitter. 

Twitter juga menghapus kicauan dari Rudy Giuliani, pengacara pribadi Donald Trump. Ia pernah mengunggah tweet yang mengklaim bahwa zat hydroxychloroquine dapat 100 persen mengobati virus corona. 

Seperti dikutip, Kamis (2/4/2020) zat tersebut ternyata masih belum teruji secara klinis sehingga ditandai sebagai informasi yang menyesatkan. 

Beberapa waktu lalu, Twitter memang memperketat kebijakan kontennya terkait persebaran informasi virus corona. Twitter akan menghapus kicauan yang menganjurkan obat atau tindakan pencegahan yang keliru, seperti minum cairan pemutih pakaian. 

Kicauan yang berisi informasi atau klaim keliru yang dibuat agar seolah-olah berasal dari ahli atau otoritas pemerintah juga dilarang. kbc10

Bagikan artikel ini: