KPPU: Harga gula di 34 provinsi jauh di atas HET

Kamis, 9 April 2020 | 08:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  mencatat hingga 3 April 2020, sebanyak 34 provinsi menjual gula pasir konsumsi di atas harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 12.500 per kilogram (kg). Kenaikan harga gula ini disebabkan kelangkaan pasokan karena rencana impor gula yang dilakukan pemerintah terlambat.

Anggota KPPU Guntur Saragih mengatakan, rata-rata harga gula yang dijual pada 34 provinsi tersebut menyentuh angka Rp 18.000 per kg. Sementara bila mengacu ketentuan pemerintah sesuai HET, harga jual gula pasir pedagang seharusnya ditetapkan Rp 12.500/ kg.

Sementara rata-rata harga gula pasir secara nasional berdasarkan situs Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) pada Rabu (8/4) maish stabiltinggi sekitar Rp 18.550/kg. "Namun kami memahami, surat persetujuan impor (SPI) baru terbit Maret lalu untuk 400 ribu ton lebih gula pasir. SPI butuh waktu realisasi, sehingga memang tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, penerbitan SPI tergolong terlambat," kata Guntur lewat diskusi  teleconference di Jakarta, Rabu (8/4/2020).

Menurut Guntur minimnya pasokan gula pasir di pasaran berimbas pada pembatasan pembelian toko-toko retail modern yang saat ini masih menjual gula pasir dengan harga HET. Sementara, untuk beberapa pasar tradisional dan toko kelontong, harganya cenderung lebih tinggi.

Karena itu, untuk mengatisipasi keterlambatan impor dari perusahaan swasta, KPPU mendorong instansi pemerintah untuk segera membuka keran impor. "Bila dibutuhkan perusahaan negara seperti Bulog bisa diberikan dukungan untuk merealisasikan impor," kata dia.

Guntur menjelaskan saat ini pihaknya tengah meningkatkan pengawasan kepada para importir nakal yang diduga dengan sengaja melakukan persekongkolan untuk menunda impor gula pasir. Hal itu mereka dilakukan agar dapat mempermainkan harga di pasaran.

 "Jika memang terbukti ada persekongkolan, maka KPPU bisa memberikan aset penegakkan penyidikan, kemudian masuk ke persidangan dan memberikan sanksi sesuai dengan Undang-Undang maksimum denda Rp 25 miliar," kata dia.

Karena itu perlu upaya penindakan yang tegas, terlebih banyak masyarakat tengah kesulitan saat ini akibat pandemi virus corona di Tanah Air. Selain itu, para petani tebu harus dilindungi karena pada semester dua tahun ini akan ada panen raya. Sehingga diharapkan pasokan gula tak masuk secara berlebihan dan membuat harga gula petani anjlok.kbc11

Bagikan artikel ini: