Terhempas Covid-19, pertumbuhan ekonomi RI 2020 diprediksi hanya segini

Jum'at, 10 April 2020 | 11:31 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi tahun 2020 ini.

Bank Indonesia (BI) misalnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya sebesar 2,3 persen. Prediksi itu merupakan skenario berat dari hasil diskusi antara Bank Indonesia, Menteri Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Berdasarkan laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19, virus corona akan mencapai puncaknya pada bulan Juni dan Juli. Sehingga pertumbuhan ekonomi pun terkoreksi lebih dalam.

"Skenario berat itu 2,3 persen pertumbuhan ekonomi di 2020," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (9/4/2020).

Pada kuartal pertama, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi di angka 4,7 persen. Kemudian mengalami penurunan cukup dalam di kuartal kedua hingga 1,1 persen.

Lalu pada kuartal tiga naik tipis menjadi 1,3 persen. Lalu kembali naik di kuartal keempat sebesar 2,4 persen. "Itulah yang kemudian disepakati bersama dan itu jadi acuan," kata Perry.

Prediksi itu yang menjadi dasar berbagai stimulus diberikan pemerintah ke berbagai sektor. Setidaknya pemerintah menyuntikan dana hingga Rp 405 triliun dalam menanggulangi dampak wabah virus corona.

Akibatnya defisit fiskal untuk pertama kalinya lebih dari 3 persen dari PDB. Yakni 5,7 persen di tahun 2020.

Sebelumnya, Asian Development Bank juga memprediksi perekonomian Indonesia hanya tumbuh 2,5 persen pada 2020 akibat mewabahnya Covid-19. Pertumbuhan itu akan turun ketimbang tahun lalu yang mencapai 5,0 persen.

“Meski Indonesia memiliki landasan makroekonomi yang kuat, wabah Covid-19 yang tengah berlangsung telah mengubah arah perekonomian negara ini, dengan memburuknya kondisi lingkungan eksternal dan melemahnya permintaan dalam negeri,” kata Direktur ADB untuk Indonesia, Winfried Wicklein.

Dia memperkirakan perekonomian Indonesia bisa kembali secara bertahap ke jalur pertumbuhannya pada tahun depan. Syaratnya, pemerintah menerapkan tindakan tegas secara efektif untuk menanggulangi dampak kesehatan dan ekonomi dari wabah Corona.

Menurut Asian Development Outlook 2020, pandemi Covid-19 bersamaan dengan penurunan harga komoditas dan gejolak pasar keuangan, akan berimplikasi buruk bagi perekonomian dunia dan Indonesia tahun ini. Terlebih, dengan memburuknya perekonomian sejumlah mitra dagang utama Indonesia.

Tak hanya dari perdagangan global, permintaan dalam negeri juga diperkirakan akan melemah seiring dengan menurunnya sentimen bisnis dan konsumen. Namun, sejalan dengan pulihnya perekonomian dunia tahun depan, pertumbuhan Indonesia diperkirakan akan memperoleh momentum, dibantu dengan reformasi di bidang investasi yang dikeluarkan baru-baru ini.

Inflasi yang mencapai rata-rata 2,8 persen pada tahun lalu, diperkirakan akan naik tipis ke 3,0 persen pada tahun 2020, sebelum turun lagi ke 2,8 persen pada tahun 2021. Berdasarkan laporan ADB, tekanan inflasi dari ketatnya pasokan pangan dan depresiasi mata uang diperkirakan akan dapat diimbangi sebagian oleh penurunan harga bahan bakar non-subsidi, serta subsidi tambahan untuk listrik dan pangan.

Pendapatan ekspor dari pariwisata dan komoditas diperkirakan akan menurun, sehingga menyebabkan defisit transaksi berjalan mencapai 2,9 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2020. Seiring pulihnya taraf ekspor dan investasi pada 2021, volume barang modal impor yang lebih besar akan menyebabkan defisit transaksi berjalan tetap sama seperti pada 2020.

ADB melihat pemerintah dan otoritas keuangan Indonesia telah meluncurkan berbagai langkah fiskal dan moneter yang terkoordinasi dan terarah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian dan mata pencaharian masyarakat. Hal tersebut termasuk distribusi bantuan langsung tunai bagi kelompok miskin dan rentan, serta pemotongan pajak dan kelonggaran pembayaran pinjaman bagi pekerja dan dunia usaha.

Secara eksternal, kata Winfried, risiko terhadap proyeksi perekonomian Indonesia ini adalah wabah Covid-19 yang berkepanjangan, penurunan harga komoditas lebih lanjut, serta meningkatnya gejolak pasar keuangan. Dari dalam negeri, proyeksi ini bergantung pada seberapa cepat dan efektif penyebaran wabah dapat ditanggulangi. Keterbatasan sistem kesehatan dan kesulitan dalam menerapkan pembatasan sosial dapat memperburuk dampak pandemi terhadap ekonomi. kbc10

Bagikan artikel ini: