Webinar Kadin Surabaya dan Dayalima: Saatnya kolaborasi demi kontinuitas bisnis hadapi pandemi Covid-19

Kamis, 16 April 2020 | 18:41 WIB ET

SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya dan Grup Dayalima menggelar webinar (seminar online) bertema ”Managing Day After Tomorrow” untuk berbagi strategi bagi para pelaku usaha agar tetap survive di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak menjadi pembicara dalam diskusi online tersebut. Emil mengatakan, Pemprov Jatim telah melakukan refocusing dan realokasi APBD 2020 sebesar Rp2,38 triliun untuk menangani Covid-19, termasuk untuk pemulihan ekonomi melalui berbagai program, mulai padat karya hingga proyek-proyek yang menyerap tenaga kerja. Termasuk di dalamnya ada upaya mendorong dunia usaha kembali pulih.

”Pemprov Jatim yakin dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan dunia usaha, situasi ekonomi yang sulit ini bisa kita lewati dengan baik. Dan nanti pasca-pandemi, dunia usaha bisa segera bangkit,” ujar Emil.

Ketua Kadin Surabaya M. Ali Affandi mengatakan, dalam situasi perekonomian yang penuh tantangan saat ini, para pelaku usaha harus memperkuat kolaborasi. Saling bekerja sama untuk menambal kekurangan masing-masing, sehingga menciptakan pola dan nilai bisnis yang lebih kuat.

”Harus diakui, pandemi corona ini membuat kita semua terpukul, harus pandai-pandai mengatur arus kas, menghitung dengan cermat seluruh aspek bisnis karena kita belum tahu sampai kapan wabah ini berakhir, sampai kapan kurva orang yang terinfeksi Covid-19 bisa melandai,” ujar Andi, sapaan akrab Ali Affandi.

Andi mengatakan, situasi krisis harus dijawab dengan inovasi dan kreativitas oleh dunia usaha. Sebab, prinsip dasar kewirausahaan memang selalu bisa memanfaatkan sumberdaya yang terbatas untuk hasil yang optimal.

”Dengan sumberdaya yang sama-sama terbatas, kita harus melakukan kolaborasi untuk menekan dampak negatif wabah ini. Fokus sekarang bukan lagi cari untung, tapi bisa bertahan sudah harus kita syukuri,” ujar Andi.

Dengan berkolaborasi, sambung Andi, para pelaku usaha bisa melakukan lebih banyak hal, karena sumberdaya yang sebelumnya terserak di beberapa pelaku usaha bisa terkumpul menjadi satu.

”Berkolaborasi akan membuat kita bisa melewati saat-saat terberat dalam bisnis. Misalnya, pelaku usaha perhotelan berkolaborasi dengan pelaku usaha jasa layanan kesehatan. Mereka bisa bikin paket stay at hotel dengan pendampingan menu, vitamin, aktivitas menyehatkan, serta layanan kesehatan yang relevan,” ujar Andi.

Dalam webinar yang diikuti sekitar 80 pelaku usaha Surabaya itu, juga tampil CEO Daya Qarsa Apung Sumengkar sebagai pembicara. Apung membeberkan tiga hal penting yang perlu dilakukan dunia usaha di masa pandemi saat ini.

Pertama, menjalankan strategic team alignment. Apung mengajak para pelaku usaha untuk tidak panik. Para pelaku usaha harus bisa mengoptimalkan seluruh potensi orang di sekitarnya yang memiliki kapabilitas dan kapasitas untuk membantu perusahaan bisa survive di masa krisis.

”Kemudian yang kedua, para pelaku usaha disarankan bisa segera mengembangkan business continuity plan. Perencanaan bisnis berkelanjutan tersebut diperlukan untuk mengamankan revenue saat ini serta sekaligus mencari peluang bisnis baru yang bisa digarap di masa krisis atau mendatang,” ujar Apung yang dikenal sebagai konsultan transformasi bisnis holistik.

Dia menambahkan, business continuity plan juga diperlukan agar perusahaan bisa mengoptimalkan biaya.

Adapun langkah ketiga, lanjut Apung, pelaku bisnis sebaiknya membentuk tim khusus untuk mengeksekusi seluruh perencanaan dengan cepat dan tepat.

”Perlu semacam crisis management office sehingga perusahaan bisa cepat mengeksekusi berbagai hal dengan langkah yang terukur dan mitra yang tepat,” ujar Apung Sumengkar yang telah berkarir belasan tahun sebagai konsultan manajemen.

Apung juga membagi tips bagi perusahaan agar bisa menjaga keberlangsungan sumber pendapatan dengan tiga langkah, yaitu menghindari potensi kehilangan pendapatan, mencari sumber pendapatan baru, dan mengendalikan arus kas.

”Beberapa langkah untuk menghindari kehilangan pendapatan, seperti menyesuaikan produk dan layanan saat ini untuk saluran penjualan baru serta fokus ulang atau memperbaiki prioritas dan strategi retensi pelanggan,” ujarnya memberi contoh. kbc9

Bagikan artikel ini: