Jangan sampai merugi, DPR usul PGN diberi insentif

Kamis, 16 April 2020 | 22:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah diminta memberikan insentif untuk badan usaha hilir minyak dan gas bumi (migas). Insentif perlu diberikan agar tidak ada pihak yang dirugikan saat penurunan harga gas untuk sektor industri menjadi US$6 AS per MMBTU diterapkan.

Anggota Komisi VI DPR Gde Sumarjaya menuturkan penerapanpenurunan harga gas yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 harus tetap menjaga keekonomian, keberlanjutan usaha, aspek tata kelola, dan kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku.

"Komisi VI DPR RI akan meminta Kementerian BUMN untuk berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk mengevaluasi regulasi agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap dividen, penerimaan negara dari pajak serta pelaksanaan tanggung jawab sosial kepada masyarakat," kata Gde, yang menjadi  Pimpinan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR bersama Kementerian BUMN yang disiarkan melalui youtube, di Jakarta, Kamis (16/4/2020).

Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron menegaskan pemerintah mengandalkan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yaitu Pertamina, PLN dan PGN untuk memberikan stimulus perekonomian dalam menghadapi wabah virus corona baru (Covid-19). Seharusnya, pemerintah memberikan insentif agar perusahaan tersebut tetap stabil saat menghadapi terpaan wabah Covid-19."Kalau pemerintah memberikan penugasan ini harus diberikan kompensasi, boleh ambil buahnya jangan tebang pohonya," ujar Herman.

Terkait stimulus penurunan harga gas, pemerintah telah menerbitkan peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 tentang cara penetapan penggunaan dan harga gas bumi tertentu bidang industri. Herman memandang pemerintah seharusnya melindungi PGN sebagai BUMN yang diandalkan dalam penyuran gas bumi dan membangun infrastrukturnya, terlebih perusahaan tersebut berstatus terbuka sehingga perlu kehati-hatian dalam menetapkan kebijakan terkait gas bumi, agar tidak mebuat harga saham turun.

Investor tidak lari dan berujung pada kerugian. "Ini harus kita membuat proteksi karena mereka harus untung. Kita harus back up agar merek tetap survive," tuturnya.

Anggota Komisi VI DPR Nyat Kadir menambahkan, penerapan penurunan harga gas bumi menjadi 6 dolar AS per MMBTU harusnya memikirkan ke ekonomian pembangunan infrastruktur gas, sebab dengan kondisi geografis Indonesa yang beragam membutuhkan investasi besar untuk melaksanakannya.

"Ada kebijakan permen, yang terus ditekankan oleh bapak presiden mulai Maret sudah 6 dolar AS per MMBTU apakah itu jalan. Kalau itu jalan apakah harganya masuk secara keekonomian di Indonesia ini, dengan geografis, pasang peralatan transmisi pulau dan macam-macam, hambatan geografis lah," tuturnya.

Untuk menurunkan harga gas menjadi US$ 6 per MMBTU pemerintah menurunkan harga gas di hulu menjadi US$ 4-4,5  dan biaya distribusi menjadi US$ 1,5-2  AS per MMBTU.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso mengatakan keekonomian biaya penyuran gas yang dilakukan PGN sebagian masih US$ 2,6-3,2  per MMBTU. Maka, dengan diterapkannya penurunan harga gas menjadi US$ 6 dola MMBTU akan berdampak pada penurunan pendapatan dan laba Usaha, bahkan berisikio kerugian.

Sebab itu Gigih berharap pemerintah memberikan insentif untuk menjaga keuangan perusahaan tetap sehat, saat penurunan harga gas diterapkan.

"Sesuai Permen 08 tahun 2020 sebenarnya sudah diputuskan akan ada insetif kepada badan usaha untuk di sektor hilir namun belum ada pendalaman mekanisme  ini, kami membutuhkan dukungan pemerintah, para anggota komisi VI, bagaimana dengan mekaniske insetif ini karena jika tidak clear sulit mempertahankan keekonomian jika harga harus US$ 6 per MMBTU," tutupnya.kbc11

Bagikan artikel ini: