Astindo minta refund tiket maskapai berupa uang tunai

Selasa, 21 April 2020 | 12:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (Astindo) meminta refund tiket maskapai penerbangan dalam bentuk tunai dan bukan voucher.

Sekjen DPP Adtindo Pauline Suharno mengatakan, seluruh maskapai saat ini mengalami kesulitan likuiditas akibat minimnya angka penjualan dan masih terbebani dengan biaya operasional selama pandemi virus corona (Covid-19).

Sehingga, maskapai memutuskan untuk melakukan pengembalian tiket dengan menggunakan voucher refund (maskapai internasional) atau top up deposit (maskapai domestik).

“Penggunaan voucher refund membantu maskapai untuk menghemat cash yang harus dikeluarkan. Konsumen diharuskan untuk menunda perjalanan dan tidak membatalkan perjalanan,” ujar Pauline dalam keterangan tertulisnya, Senin (20/4/2020). 

Pauline mengaku sudah menyurati beberapa maskapai terkait hal ini. Namun, belum ada tanggapan dari maskapai terkait. “Bagaimana jika maskapai tidak sanggup bertahan menghadapi gempuran kesulitan selama pandemic Covid-19? Apakah ada jaminan bagi pemegang voucher refund, maupun bagi pengusaha travel agent, uang tiket akan dikembalikan utuh?” kata Pauline.

Pauline mencontohkan, kejadian ini pernah terjadi saat maskapai Linus Air, Batavia Air, Adam Air berhenti beroperasi. Saat itu, seluruh dana refund konsumen dan top up deposit tidak dikembalikan kepada konsumen dan travel agent.

Akibatnya, puluhan miliar uang milik konsumen dan travel agent dianggap bagian dari aset maskapai tersebut karena mengendap di rekening banknya. “Sangat disayangkan, baik konsumen maupun travel agent menjadi yang paling dirugikan dalam hal ini, maskapai penerbangan beroperasi bermodalkan uang milik konsumen dan travel agent,” kata Pauline.

Untuk itu Astindo meminta perhatian kepada seluruh maskapai agar mengembalikan refund tiket berbentuk dana yang ditransfer ke rekening customer/travel agent. Bukan mengembalikannya dalam bentuk voucher ataupun deposit, karena dalam kondisi saat ini travel agent pun sangat membutuhkan dana tunai.

Berdasarkan data IATA (International Air Transport Association), tercatat penurunan volume penjualan tiket penerbangan lebih dari 90 persen dalam kurun waktu hampir tiga bulan (26 Januari-17 April 2020). 

Pengurangan besar-besaran frekuensi penerbangan serta semakin banyaknya negara yang melakukan lockdown mengakibatkan terjadinya minus billing (nominal tiket yang dikembalikan/dibatalkan lebih besar dari penjualan tiket). Sehingga sekarang ini lebih banyak maskapai yang berhutang kepada travel agent.

“Kondisi ini selain mengganggu cashflow travel agent, juga membahayakan bagi konsumen. Client korporasi / pemerintah yang memiliki tempo kredit dengan travel agent umumnya enggan membayar tiket pesawat yang di-refund, sedangkan travel agent harus memproses refund kepada maskapai yang memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan,” pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: