Triwulan I, investasi industri manufaktur tumbuh 44,7 persen

Senin, 27 April 2020 | 20:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat sepanjang triwulan I 2020 nilai investasi sektor industri pengolahan membaik meskipun dihadapkan pada kondisi sulit seperti pandemi wabah corona (Covid-19).

Tercatat sepanjang tiga bulan pertama 2020, total penanaman modal sektor manufaktur sebesar Rp 64 triliun. Capaian ini naik 44,7% jika dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 44,2 triliun.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan realisasi investasi tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri ( PMDN ) sebesar Rp 19,8 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 44,2 triliun. Jumlah sumbangsih tersebut melonjak dibanding perolehan pada periode yang sama tahun lalu, yakni PMDN sekitar Rp16,1 triliun dan PMA Rp 28,1 triliun.

"Pada kuartal I tahun 2020 ini, nilai investasi industri manufaktur memberikan kontribusi yang signifikan, hingga 30,4% dari total investasi keseluruhan sektor sebesar Rp 210,7 triliun," kata Agus Gumiwang di Jakarta, Senin (27/4/2020).

Adapun sektor-sektor manufaktur yang menyetor nilai investasi secara signifikan pada kuartal I 2020, antara lain industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar Rp 24,54 triliun. Kemudian industri makanan Rp11,61 triliun, Industri Kimia dan Farmasi Rp 9,83 triliun, industri mineral non logam Rp 4,34 triliun, serta industri karet dan plastik sebesar Rp 3,03 triliun.

Selanjutnya, nilai investasi industri kertas dan percetakan sebesar Rp 2,99 triliun, industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain Rp 2,14 triliun serta industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik dan jam mencapai Rp 1,99 triliun.

Sebelum terjadi pandemi Covid-19, industri pengolahan di Tanah Air masih menunjukkan gairah yang positif. Hal ini tercermin pada capaian Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit, pada Februari tahun 2020 berada di posisi 51,9 atau tertinggi sejak tahun 2005.

"Kami optimistis, dengan melakukan upaya mitigasi atau menerbitkan kebijakan-kebijakan strategis pada masa pandemi Covid-19 ini, tidak mustahil bahwa Indonesia sebelum tahun 2030 sudah bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia," terang dia.

Agus optimis ekonomi Indonesia bakal mengalami rebound lebih cepat pasca-pandemi Covid-19. Keyakinan ini muncul setelah ekonomi China mengalami rebound yang lebih cepat dari perkiraan banyak pihak. Keyakinan tersebut disampaikannya setelah melakukan video conference dengan asosiasi industri yang mendatangkan bahan baku produksi dari China.

"Ternyata ada beberapa industri yang pada Maret pertengahan, sudah bisa mendapatkan bahan baku lagi dari China," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: