Mentan SYL: Perbaikan alur distribusi pangan terus dilakukan

Kamis, 30 April 2020 | 17:52 WIB ET
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan saat pandemi Covid-19 ini pihaknya terus berupaya memperbaiki alur distribusi bahan pangan. Kerja bersama antarkementerian saat ini menurutnya sedang berjalan menyalurkan pangan dari daerah surplus ke daerah yang minim produksinya.

"Terpenting adalah distribusi kita berjalan dengan lancar. Identifikasi wilayahnya kita punya pemetaannya. Ini perintah Bapak Presiden supaya kita semua kementerian bekerja sama menutup defisit. Artinya, tidak ada lockdown, tidak ada isolasi, tidak melakukan penguncian, dan tidak membuat rintangan terhadap distribusi pangan," kata Syahrul di Jakarta, Kamis (30/4/2020).

Perbaikan distribusi dilakukan antara Kementerian Pertanian, Badan Urusan Logistik (BULOG), dan Kementerian Perdagangan sebagai upaya memastikan 11 kebutuhan bahan pokok nasional dalam kondisi aman dan terkendali, di antaranya beras, daging sapi dan ayam, minyak goreng, telur, bawang putih, bawang merah, aneka cabai, dan gula.

"Semuanya tidak ada yang kurang karena pemerintah sudah menghitung neraca stok pangan yang ada. Adanya PSBB dan lockdown beberapa negara memang berpengaruh. Namun, kami menjamin stoknya aman," tegasnya.

Selain itu, kata Mentan masyarakat juga diharapkan bersikap tenang dengan tidak melakukan panic buying yang bisa menimbulkan gejolak pangan. Begitu juga dengan para pedagang agar tidak memanfaatkan situasi ini menjadi kisruh dan keruh. "Insya Allah kalau masyarakat tidak panik dan tidak ada pedagang yang memainkan situasi ini, kebutuhan kita benar-benar aman," katanya.

Meski demikian, Syahrul membenarkan apa yang disampaikan Presiden terkait adanya sejumlah provinsi yang mengalami defisit stok. Kata Mentan catatan Kementan sampai dengan bulan April ini ada beberapa provinsi yang mengalami defisit produksi.

Satu di antaranya adalah Kalimantan Tengah yang mengalami minus di atas 10 %. Ada juga dua provinsi yang defisitnya sampai 25 %. Masing-masing adalah Provinsi Bali dan Kalimantan Barat. Sisanya, Sumatera Utara dan Riau mengalami defisit di bawah 25 %.

"Namun setelah kita intervensi, artinya komoditas komoditas dari daerah yang surplus itu kita alihkan lalu masuk ke daerah yang defisit, hasilnya ada sekitar 28 provinsi yang saat ini dalam kendali. Walaupun 2 di antaranya, yaitu Kalimantan Utara dan Maluku, perlu mendapat perhatian lebih," tutupnya.kbc11

Bagikan artikel ini: