Ekspor manggis melesat di tengah pandemi Covid-19

Jum'at, 1 Mei 2020 | 16:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Para petani manggis di daerah Senduro Lumajang Jawa Timur dapat tersenyum lebar. Pasalnya, di tengah kondisi pandemi Covid-19 hasil panen manggis asal kawasan tersebut dapat kembali mengekspornya  ke mancanegara.

Ketua Asosiasi Petani Manggis “Senduro Makmur” Kandangtepus Senduro Lumajang, Sahul Priyadi mengaku senang hasil panen manggis dari daerahnya bisa kembali diekspor. Meski setiap tahun pihaknya rutin memasok manggis ke eksportir, diakuinya tahun ini sempat muncul was-was akibat terpaan wabah Covid-19.

Adanya penutupan jalur penerbangan ke sejumlah negara, ternyata tak menyurutkan semangat para eksportir untuk terus mengirim buah yang berjuluk “The Queen of Tropical Fruit” tersebut ke sejumlah negara, dan utamanya China.

Bergeliatnya kembali ekspor manggis tersebut disambut positif berbagai kalangan. Salah satunya yang sangat dirasakan manfaatnya oleh petani manggis di Lumajang adalah harga jual di tingkat petani yang tetap terjaga.

Kembalinya ekspor buah tropis ini tentu menggembirakan karena akan membawa manfaat positif bagi perekonomian nasional. Khususnya bagi petani manggis.

Disisi lain, permintaan buah-buahan tropis di berbagai negara sebenarnya sangat tinggi. Terlebih pada saat pandemi Covid-19, masyarakat dunia sangat membutuhkan asupan vitamin asal buah-buahan segar.

“Senang sekali ada ekspor manggis lagi. Terus terang kami sempat khawatir tahun ini tidak bisa ekspor lagi karena adanya Virus Corona. Alhamdulillah, ternyata tahun ini mitra eksportir kami masih bisa (ekspor) lagi lewat pelabuhan Jakarta,” kata Sahul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (1/5/2020).

Menurut Sahul yang sekaligus berperan sebagai koordinator pengumpul manggis wilayah Lumajang tersebut, sejak awal Maret 2020 lalu hingga saat ini sudah mengirim sedikitnya 90 ton manggis untuk diekspor melalui PT Bumi Alam Sumatera (BAS).

Selain Lumajang, sejumlah sentra produksi manggis diantaranya di Jombang, Banyuwangi, Ponorogo, Jember, Malang, Trenggalek dan Blitar. Selain itu , Purwakarta, Tasikmalaya , Bogor, ,Subang , Purwoerjo,Tabanan dan Lombok Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dirinya mengaku mampu memasok rata-rata 55 ton untuk dieskpor. “Ekspor manggis dari Lumajang terbilang lancar. Buktinya, sejak awal Maret sampe sekarang sudah kirim 12 kali sebanyak 1.000 boks, masing-masing boks beratnya 7,5 kilogram. Jadi totalnya sudah sekitar 90 ton. Ini masih jalan terus, sampai kira-kira panen bulan Mei nanti,” kata Sahul.

Jika ada ekspor begini, kata Sahul petani bersyukur karena harga manggis bisa terjaga bagus biarpun sedang panen raya. Sekarang ini manggis kami dibeli eksportir Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu per kilo sesuai grade.

“Kalau pas lagi jarang manggis, pernah dihargai sampai Rp 45 ribu sampai Rp 60 ribu sekilo. Lha, kalau hanya ngandelin jual ke penebas lokalan, harganya bisa jauh dibawah itu,” ujar Sahlul.

Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan dipilihnya Pelabuhan Tanjung Priok,Jakarta sebagai pelabuhan ekspor manggis dari Lumajang untuk tujuan Cina guna mensiasati pembatasan ekspedisi melalui jalur penerbangan ke China. Anton demikian disapa, menggeliatnya ekspor buah trapis ini tentunya menggembirakan karena membawa manfaat positif bagi perekonomian nasional juga petani.

”Mereka bisa menikmati harga manggis yang lebih baik karena permintaaanya sangat tinggi. Terlebih pada saat pandemi Covid 19, masyarakat dunia sangat membutukan asupan vitaman asal buah-buahan segar,” terangnya.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Lumajang Donny Ananto menyebut potensi pengembangan manggis di daerahnya masih sangat luas. Manggis lokal Lumajang banyak ditemui di beberapa kecamatan seperti Senduro, Guci Alit ,Pasru Jambe, Randu Agung dan Candipuro.

“Catatan statistik kami, produksi tahun 2019 lalu mencapai 631 ton. Kebun manggis disini ada yang berupa hamparan, ada pula yang spot-spot peninggalan simbah-simbah dulu yang umurnya puluhan bahkan ada yang ratusan tahun. Perkiraan lebih dari 170 hektar,” kata Donny.

Donny mengatakan pihaknya sangat membuka diri dan siap memfasilitasi apabila ada eksportir lain yang berminat untuk menjalin kemitraan dengan petani manggis di Lumajang. Guna memacu ekspor, Dinas Pertanian setempat hingga kini terus menggiatkan pembinaan kepada kelompoktani serta melakukan registrasi kebun manggis sebagai salah satu persyaratan ekspor.

“Di lapangan masih banyak sekali manggis yang belum diekspor, karena rata-rata petani menjualnya masih tebasan. Akibatnya kalau pas lagi panen raya harganya selalu rendah. Apalagi sekarang dibayang-bayangi adanya Covid-19. Untunglah saat ini ada ekspor lagi, sangat membantu petani,” tukas Donny seraya mengutip data BPS, produksi manggis nasional tahun 2019 sebanyak 246.476 ton naik 8,03% dibanding tahun sebelumnya.kbc11

Bagikan artikel ini: