Hambatan perdagangan picu kenaikan harga pangan

Senin, 11 Mei 2020 | 19:08 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pandemi Covid-19 menyebabkan disrupsi pada perekonomian. Berbagai kebijakan untuk membatasi penyebaran Covid-19 membuat aktivitas produksi dan distribusi melambat. Sebagian masyarakat pun kehilangan mata pencaharian dan daya beli melemah.

Diperlukan kebijakan pemerintah untuk menghilangkan hambatan pada perdagangan pangan, agar harga terjangkau.

"Untuk memastikan masyarakat, terutama mereka yang terdampak dan masyarakat prasejahtera, dapat tetap mengakses komoditas pangan dengan harga terjangkau, maka ketersediaan pasokan yang cukup perlu jadi fokus pemerintah," ujar peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Ira Aprilianti di Jakarta, Senin (11/5/2020).

Ia menilai kebijakan perdagangan pangan Indonesia selama ini cukup proteksionis dan kurang terbuka. Terdapat hambatan tarif dan non-tarif, seperti pengenaan pajak, adanya sistem kuota, ketentuan pengemasan, regulasi yang panjang dan tidak sederhana dan pada beberapa komoditas. Juga, adanya monopoli karena impor hanya bisa dilakukan oleh perusahaan BUMN yang ditunjuk pemerintah.

Padahal, menghilangkan hambatan pada perdagangan pangan sangat penting untuk memastikan tercapainya ketahanan pangan, tidak hanya selama pandemi Covid-19. Sebagai informasi, terbatasnya produksi dalam negeri membuat Indonesia memerlukan impor pangan.

Pada 2018, sebanyak 95% pasokan bawang putih Indonesia diperoleh dari luar neger, khususnya China. Berikutnya, 34% daging sapi dan 55% gula juga didatangkan dari luar negeri.

Peneliti CIPS lainnya, Felippa Ann Amanta mengatakan, kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan sudah terjadi di Indonesia sebelum adanya pandemi covid-19, seperti beras, bawang putih, bawang bombay dan gula.

Terlambat keluarnya rekomendasi impor dari pemerintah dan adanya kewajiban untuk memenuhi persyaratan seperti Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Persetujuan Impor (SPI), bagi pihak swasta menyebabkan proses pengajuan impor memakan waktu yang tidak sedikit.

"Akibatnya, harga-harga komoditas pangan menjadi semakin tidak terjangkau," ujar Fellppa.

Pandemi covid-19, lanjut Felippa membawa dampak bagi ketahanan pangan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Pandemi ini menyebabkan banyak negara memberlakukan kebijakan yang berpotensi menyebabkan gangguan pada produksi dan rantai pasok pangan.

"Sangat penting bagi Indonesia untuk memastikan ketahanan pangan di dalam negeri, salah satunya dengan menghilangkan hambatan pada perdagangannya," pungkas Felippa.kbc11

Bagikan artikel ini: