Akibat Covid-19, BKPM akan revisi target realisasi investasi 2020

Jum'at, 15 Mei 2020 | 16:18 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Kapala Badan Koordunasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia Bahlil Lahadalia memperkirakan, laju investasi yang akan masuk ke Indonesia pada Triwulan II/2020 bakal mengalami penurunan yang cukup besar. Bahkan BKPM berencana untuk melakukan revisi target investasi 2020 yang telah ditetapkan di awal tahun sebesar Rp 886,1 triliun.

"Target realisasi investasi 2020 sebesar Rp886,1 triliun kami perkirakan tidak akan mungkin terjadi karena pada triwulan ke dua nanti akan terjadi penurunan yang sangat besar. Sehingga kami saat ini sedang melakukan analisa untuk melakukan revisi target," ujar Bahlil Lahadalia saat Webinar yang digagas oleh 12bros dengan tema "Menjadi Investor di Masa Pandemi", Kamis (14/5/2020) malam.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pada triwulan I/2020 realisasi investasi di Indonesia masih bisa melaju hingga mencapai  Rp 210,7 triliun atau naik 8 persen dibanding tahun lalu. Secara rinci, terdapat peningkatan pada penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar 29,3% dari Rp 87,2 triliun menjadi Rp 112,7 triliun. Sementara penanaman modal asing (PMA) menurun 9,2% menjadi Rp 98 triliun dari periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Ketika  kami menganalisa, kami menemukan  bahwa investasi asing atau PMA bakal menurun, makanya kami berusaha menggenjot investasi dalam negeri atau PMDN. Kami bantu pengusaha, apa kendalanya," terangnya.

Bahlil juga mengatakan bahwa dari realisasi investasi tersebut, ternyata sebarannya saat ini cukup merata, antara Jawa dan luar Jawa. Investasi di Jawa mencapai 51 persen sementara investasi luar Jawa mencapai 48,6 persen.

"Ini menunjukkan bahwa saat ini investor tidak hanya fokus pada Jawa tetapi juga luar Jawa. Hal ini dipicu oleh keberhasilan pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan oleh pak Jokowi sepanjang 5 tahun yang lalu. Ini juga menandakan bahwa manfaat pembangunan infrastruktur sudah mulai terlihat," katanya.

Agar investasi tetap bisa tumbuh di bulan-bulan selanjutnya, maka BKPM telah mencanangkan enam target, diantaranya  berupaya mengeksekusi investasi besar, memperbaiki peringkat kemudahan berinvestasi di Indonesia,endorong investor besar untuk bermitra dengan pengusaha nasional utamanya pengusaha daerah, promosi  investasi berdasarkan negara dan sektor serta mendorong peningkatan investasi PMDN atau UMKM.

Di sisi lain, Bahlil mencermati lambatnya realisasi investasi di tahun lalu yang hanya mampu mencatatkan kinerja sebesar Rp 792 triliun dari target Rp 809 triliun. Dari realisasi tersebut, juga ada sekitar Rp 780 triliun investasi yang mandeg. Atau mangkrak hingga 4 tahun, 5 tahun atau bahkan 6 tahun. Melalui berbagai cara maka sekarang sudah berhasil diekseskusi sebesar Rp 287 triliun.

"Kenapa investasi di negara kita banyak yang mangkrak, ternyata ada banyak penyebabnya, diantaranya adalah arogansi sektor antar kementerian lembaga, tumpang tindihnya aturan antar lembaga kementerian dan antar pusat dan daerah sehingga investasi tidak bisa berjalan mulus. Disamping itu, juga ada berbagai persoalan lain di lapangan, seperti jatah preman dan lain sebagainya. Nah, ini sudah kami inventarisir dan kami cari solusinya," terang Bahlil.

Terkait investasi yang masih menjanjikan di saat pandemi Covid-19, ia mengatakan pertambangan, infrastruktur, alat kesehatan, manufaktur dan energi. " Intinya saat in,i kami berupaya mendorong masuknya investasi dan itu tidak terpaku pada investasi besar, skala UMKM juga sangat membantu karena 85 persen pertumbuhan ekonomi kita disumbang oleh sektor konsumsi yang erat hubungannya dengan daya beli masyarakat. Selanjutnya berhubungan dengan pendapatan dan lapangan pekerjaan. Jadi investasi sekecil apapun yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan itu sangat membantu," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Investment Expert Sandiaga Uno juga mengatakan  hal yang sama bahwa di setiap krisis selalu ada dua sisi mata uang di koin yang sama. Ada sektor yang terpuruk dan ada sektor yang melaju, ada sektor yang berbahaya dan ada juga sektor yang memiliki peluang bagus. Untuk itu, dalam berinvestasi harus memiliki tujuan agung, yaitu agar masyarakat Indonesia menjadi lebih makmur  dan lebih baik.

"Ada etika berinvestasi dan berbisnis yang harus diutamakan dan jangan  hanya melihat pencapaian secara kuantitas. Investasi yang sustainable jangan sampai dilupakan karena investasi harus memiliki dampak positif terhadap negeri. Kita harus bangun, ciptakan lapangan kerja, perkuat sisi industri jangka panjang dan perkuat ekonomi bangsa agar jika pada tahun-tahun yang akan datang diterpa krisis, Indonesia mampu bertahan," pungkas Sandiaga Uno.kbc6

Bagikan artikel ini: