Menteri Basuki bangun 2 RS Covid-19 di Lamongan dan Biak Numfor

Jum'at, 15 Mei 2020 | 17:34 WIB ET

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) membangun fasilitas kesehatan untuk pasien virus corona (Covid-19) di Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Papua setelah menerima permintaan dari Bupati Lamongan dan Biak Numfor. Permintaan bantuan itu telah disetujui Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo.

Walhasil, selain menyelesaikan pembangunan RS Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kempupera saat ini membangun fasilitas kesehatan di Lamongan dan Biak. Hal ini sebagai dukungan melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya untuk menyediakan fasilitas kesehatan di sejumlah daerah.

"Untuk pembangunan RS Lamongan dan RS Biak Numfor, kami telah menerima usulannya dan siap melaksanakan kegiatan fisiknya. Pendanaan direncanakan berasal dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Untuk RS Lamongan saat ini sudah on progres dimulai pekerjaannya," kata Menpupera Basuki Hadimuljono, Jumat (15/5/2020).

Seperti diketahui, saat ini Kabupaten Lamongan belum memiliki rumah sakit standar penanganan Covid-19. Para pasien positif ditangani Rumah Sakit Dr. Soegiri Lamongan dan Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan sebagai RS yang ditunjuk. Selain itu, beberapa fasilitas kesehatan lain seperti Puskesmas Karangkembang, Puskesmas Deket dan Rusunawa yang dialihfungsikan untuk menangani kasus Covid-19.

Adapun lahan pembangunan Rumah Sakit Covid-19 Lamongan seluas 6.070 m2 disiapkan pemda yang berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa, Beringin, Tumenggungan, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Lokasi ini berjarak 132 meter dari Rumah Sakit Dr. Soegiri Lamongan. Sementara konstruksi sudah dimulai pada 1 Mei 2020 dengan anggaran Rp 33,53 miliar dan ditargetkan selesai awal Juni 2020. Progres pembangunan hingga saat ini mencapai 20 persen.

RS Lamongan tersebut berkapasitas 82 pasien dengan ruang perawatan terpisah bagi setiap pasien yakni 75 tempat tidur observasi dan 7 tempat tidur isolasi. Pembangunannya direncanakan dibuat per blok, yaitu bangunan screening yang terdiri dari laboratorium, X-Ray, ruang petugas, administrasi dan farmasi. Bangunan Karantina 1 yang terdiri dari 25 tempat tidur observasi, ruang tindakan, ruang dokter, dan mobile X-Ray.

Sedangkan bangunan Karantina 2 terdiri dari 50 tempat tidur observasi, ruang tindakan dan ruang dokter. Bangunan Isolasi terdiri dari 7 tempat tidur, ruang dokter dan perawat. Bangunan satelit terdiri dari ruang sterilisasi, gizi, laundry, alat medis kotor dan farmasi. Tak hanya itu, dibangun pula powerhouse, ruang pompa dan ground water tank, ruang jenazah, tempat sampah, penataan landscape, parkir umum dan dokter serta pagar keliling.

Basuki menyatakan, pembangunan gedung rumah sakit bersifat permanen sehingga setelah Pandemi Covid-19 reda, rumah sakit dapat dimanfaatkan untuk rumah sakit infeksi dan keperluan lain. Jenis rumah sakit yang akan dibangun imbuhnya, adalah Rumah Sakit Tipe C dengan ketentuan standar yang mengacu pada peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Sedangkan, RSUD Biak Numfor perkirakan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan Gedung Isolasi penanganan Covid-19 sebesar Rp 38,28 miliar. Saat ini, RS tersebut memanfaatkan dua gedung lama yakni Gedung Kosinan dan Gedung Tropik yang berdekatan dengan Gedung Laboratorium sebagai ruang isolasi sementara.

Bagikan artikel ini: