Terhempas Covid-19, kerugian pebisnis kuliner capai Rp3 triliun

Minggu, 17 Mei 2020 | 06:01 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku bisnis di bidang food and beverage atau kuliner biasanya berharap momen Ramadan dan Lebaran untuk menggenjot penjualan. Namun kondisi itu saat ini tak bisa diharapkan akibat terdampak pandemi Covid-19.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bidang Restoran, Emil Arifin mengatakan, kerugian seluruh pebisnis di bidang kuliner tersebut diperkirakan mencapai Rp 3 triliun. Kerugian dihitung hingga Juni mendatang jika virus Corona tak juga menghilang.

"Hitungan kita Rp 3 triliun sekarang. Itu perkiraan kita sampai Juni segitu. Kita lagi mendata terus berapa restoran yang tutup. Kalau satu restoran dining in mal itu sales-nya saja Rp 500 juta minimum satu bulan," kata Emil seperti dikutip, Sabtu (16/5/2020).

Pendapatan restoran bulan Ramadhan tahun ini dinilai berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika penjualan tahun sebelumnya bisa mencapai di atas normal hingga 120%, kini pendapatan di bawah normal mencapai 100% lebih.

"Bulan puasa itu siang orang memang nggak makan. Tapi begitu (waktu buka) puasa tuh ramai. Istilahnya bulan puasa tuh kita 120% di atas normal, dia naik 20% dari normal biasanya. Jadi kalau sekarang yang normal saja tinggal 10%. Bedanya 100% lebih," ucapnya.

Emil menjelaskan sudah ada 8.000-an restoran di seluruh pulau Jawa yang berada di mal terpaksa tutup karena pusat-pusat perbelanjaan tempat mereka berjualan berhenti beroperasi.

"(Hotel yang tutup) diperkirakan 8.000-an. Itu hitungannya dari mal yang tutup tuh 77 (di Jakarta). Di dalam mal tuh kira-kira ada 30-an restoran, belum lagi ada yang stand alone tuh di luar, yang di DKI saja ada 4.700 (restoran). Jadi lebih dari 8.000, itu di Jawa ya," ucapnya.

Agar bisnis bisa bertahan hidup, Emil bilang, rata-rata penjualan beralih ke online. Mau tidak mau ada yang harus merubah menunya karena menu tersebut dinilai tidak cocok jika didiamkan terlalu lama.

"Supaya lebih bisa diterima karena nggak semua makanan bisa dikirim online. Kayak makanan Jepang itu kan memang enaknya dimakan pas panas, jadi ada waktunya. Jadi bentuknya sekarang frozen dibawa ke rumah, sampai rumah dipanasin. Jadi pada merubah strategi menu sama cara-cara menyajikannya," jelasnya.

Untuk mencoba menarik pembeli, pihak restoran juga tidak jarang menjual voucher dengan harga diskon. Meskipun cara tersebut dinilai tidak dapat menutupi pendapatan yang hilang selama ini.

"Nggak terlalu efektif juga karena banyak persaingannya, mulai dari ibu-ibu rumah tangga yang bikin juga sendiri. Jadi impact-nya nggak terlalu banyak daripada buka langsung," imbuhnya. kbc10

Bagikan artikel ini: