UMKM di pusaran pandemi Covid-19, bagaimana menyelamatkannya?

Minggu, 17 Mei 2020 | 14:56 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Corona Virus atau Covid-19 telah mengubah tatanan kehidupan manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Covid-19 membuat orang tak lagi bisa bebas berkeliaran, berbelanja, ngemall dan bersantai di kafe atau bepergian ke berbagai tempat wisata di seluruh Nusantara.

Aturan sosial distancing atau physical distancing harus ditaati dengan benar agar penyebaran wabah Covid-19 bisa ditekan. Bahkan di sejumlah daerah juga telah melaksanakan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar(PSBB). Akibatnya, ekonomi menjadi stagnan dan melambat. Banyak industri, mulai skala besar hingga skala kecil yang gulung tikar, termasuk usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur berkomitmen membantu seluruh pengusaha, terutama UMKM mendapatkan solusi agar bisa bangkit dan kembali berjaya.

Kadin Jatim berupaya memberikan ruang diskusi dan berkolaborasi agar UMKM bisa menemukam jalan kembali bergerak dengan menggelar diskusi virtual setiap sore dalam acara "NgabuburIT Kadin Jatim". Selain itu, Kadin Jatim juga mengadakan webinar skala besar "Kadin Jatim Talk, Berbagi Untuk Solusi" yang telah dilaksanakan Sabtu (16/5/2020) malam.

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto mengatakan bahwa tidak seperti krisis di tahun 1998, dimana UMKM masih bisa berjaya dan tidak mengalami perlambatan, krisis akibat Covid-19 ini justru telah menghempas kinerja UMKM di Jatim.

Padahal selama ini UMKM telah menjadi nadi perekonomian Indonesia, termasuk Jatim karena besarnya penyerapan tenaga kerja dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Jatim. Jumlah UMKM di seluruh Indonesia mencapai 63 juta UMKM, sekitar 9,7 juta berada di Jatim dan telah menyerap 97 persen tenaga kerja. Sementara kontribusinya terhadap ekonomi Jatim sangat mendominasi, yaitu sebesar 90 persen.

"Keberadaan UMKM di Indonesia ini sangat strategis. Atas dasar itulah kemudian Kadin Jatim berusaha memberikan masukan dan solusi melalui diskusi ini. Tetap semangat, tetap optimis dan jangan mengeluh karena ini harus dihadapi," tegas Adik, Sabtu (16/5/2020) malam.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Wakil Ketua Umum Perdagangan Internasional & Promosi Luar Negeri Kadin Jatim, Tommy Kaihatu bahwa kondisi UMKM di saat krisis akibat Covid-19 memang jauh berbeda dengan kondisinya di saat krisis 1998.

"Berdasarkan data Bank Indonesia, 96 persen UMKM selamat saat krisis 1998. Tetapi di era pandemi Covid-19, beda ceritanya. Kalau menurut perkiraan saya, terbakar sampai akar rumput. Jangan hanya berfikir kapan Covid-19 ini akan hilang karena dibalik ini semua ada gelombang krisis ekonomi yang besar," tegas Tommy.

Owner Coffee Toffee dan Wakil Ketua Komite Tetap Promosi Produk UKM Kadin Jatim, Odi Anindito mengatakan, Covid-19 tak hanya menyebabkan krisis kesehatan tetapi juga krisis sosial dan krisis ekonomi. Masyarakat tak lagi bisa bersosialisasi dengan leluasa, semuanya harus dibatasi. Padahal Coffe Toffee adalah bisnis sosial yang menyediakan tempat untuk masyarakat berinteraksi dan bersosialisasi.

"Hingga pertengahan Maret kemarin, penjualan dan omset kami drop hingga 90 persen. Kondisi seperti ini tidak pernah kami rasakan sejak Coffe Toffee bersisi 13 tahun silam. Dan ini tidak hanya terjadi kepada kami tetapi hampir seluruh gerai kafe, bahkan ada yang penjualannya 0 persen. Untuk mengatasinya kami melakukan efisiensi, melakukan cara dan ide baru yang belum kami gali. Melakukan adaptasi beberapa hal," ujar Odi.

Menurutnya, inovasi produk dan layanan harus diselaraskan dengan kata kunci yang ditetapkan pemerintah, diantaranya adalah "stay at home" dan "protokol kesehatan". Di Coffe Toffee, produk yang dijual akhirnya dimodifikasi, ada yang kemasan satu liter agar bisa diminum bersama sekeluarga. Selain itu, varian produk juga lebih mengedepankan protokol kesehatan karena konsumen saat pandemi sangat sensitif terhadap isu kesehatan.

"Bagaimana protokol dilaksanakan dengan ketat, bagaimana kepedulian atas kesehatan dan keselamatan konsumen. Kami berusaha bangun kepercayaan. Hasilnya, revenue saat ini sudah kembali naik 30 persen hingga 40 persen sehingga managemen bisa membiayai operasional kafe dan gaji karyawan," ujarnya.

Disisi lain, Owner Handmadeshoesby, Delvation store, Tom Liwafa, yang sekaligus menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Pengendalian Impor Kadin Jatim mengatakan, dipasa pandemi, UMKM dituntut untuk lebih peka terhadap potensi pasar yang bakal booming. UMKM harus bisa membaca tren yang bakal digemari konsumen. Karena pandemi ini memiliki dua sisi yang tidak sama, sisi negatif dan sisi positif.

"Pengalaman saya dalam berbisnis di tiga sektor, untuk food, tren sekarang adalah Frozen food, sementara fesyen adalah tren masker sedangkan interior trennya adalah yang goodlooking yang instragamable atau zoomable, karena banyaknya masyarakat yang bekerja di rumah, membuat mereka mencari sudut yang terbaik ketika melakukan meeting virtual," kata Tom.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah penggunaan teknologi dalam memasarkan produk atau digital marketing. Head Government Relations East Java, Bali & Nusa Tenggara at Gojek dan Wakil Ketua Komite Tetap Usaha Telekomunikasi dan Data Kadin Jatim, Boy Arno Muhamad mengatakan bahwa platform digital, mau tidak mau harus menjadi solusi dan harus dilakukan oleh UMKM di saat pandemi.

"Pemasaran bisa dilakukan melalui platform sosial media, karena saat ini hampir semua orang mengaksesnya,. Inilah saatnya UMKM go digital," tegas Boy Arno.

Apalagi jika pasar dilihat berdasarkan umur, 60 persen hingga 70 persen adalah kaum millenial yang selalu akses internet. Disisi lain, mereka juga lebih produktif dibanding yang lahir tahun 1944-1964, sehingga penghasilan kaum millenial ini jauh lebih besar, bisa mencapai 2 hingga 3 kali lipat.kbc6

Bagikan artikel ini: