Tekan penggunaan energi dengan penerapan teknologi hijau

Senin, 18 Mei 2020 | 12:14 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Pandemi Corona Virus atau Covid-19 telah memaksa masyarakat untuk melakukan evaluasi atas kehidupan yang dijalani, termasuk dalam penggunaan energi. Pasalnya, dengan penerapan Work For Home (WFH) dan School For Home (SFH) penggunaan energi listrik misalnya menjadi semakin meningkat dan tagihannya membengkak.

"Kadang apa yang kita beli tidak sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Misalnya beli komputer, kita membeli dengan tipe yang sangat tinggi padahal kebutuhannya hanya untuk menulis. Spesifikasi komputer jauh lebih tinggi dibanding kebutuhan hanya karena gaya hidup. Dan ujung-ujungnya kebutuhan energi semakin besar," ujar Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Telekomunikasi dan Teknologi Informatika, Tritan Saputra saat NgabuburIT Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim yang digelar secara virtual akhir pekan kemarin.

Lebih lanjut ia mengatakan, ketidakefisiensian masyarakat dalam menggunakan energi saat beraktifitas telah mengakibatkan terjadinya pemanasan global, suhu bumi yang kian memanas, perubahan iklim hingga banyaknya sampah elektonik yang perlu penanganan serius

Untuk mengatasinya, ada tiga pilar +plus yang telah ditetapkan dalam pembangunan yaitu pembangunan harus memberikan keuntungan kepada lingkungan, ekonomi dan sosial masyarakat. Dari sisi bidang teknologi informasi, pembangunan harus menerapkan kebijakan teknologi hijau yang dikenal dengan istilah Green IT atau green computing.

"Dalam prakteknya, Green IT atau teknogi hijau diwujudkan dengan menggunakan sumber daya teknologi informasi secara lebih efektif, efisien, dan ekonomis," tegasnya.

Ada tiga tujuan dalam penerapan teknologi hijau, yaitu efisiensi energi, penanganan sampah elektronik dan bagaimana penggunaan teknologi informasi dapat membantu menyelesaikan persoalan lingkungan.

"Ini perlu dilakukan karena energi listrik yang dipakai oleh komputer sering mubajir. Komputer merupakan sumber polusi mulai dari perakitan, pengemasan, dan pembuangan. Sebab material komputer mengandung  bahan berbahaya dan beracun," ujar Tritan.

Menurutnya, penggunaan energi untuk komouter memang cukup besar. Sebagai ilustrasi, energi listrik yang digunakan oleh  sebuah perangkat komputer  desktop  (PC)  menghabiskan 868 KW per tahun.

Ia mencontohkan, jika satu perusahaan menggunakan 20.000 PC, energi yang digunakan setara dengan 12,467 metrik ton gas karbon dioksida (C02).  Gas karbon dioksida tersebut setara dengan emisi gas dari 2.384 kendaraan, atau konsumsi bahan bakar 28.994 barel, atau pengunaan listrik 1.619 rumah tangga selama setahun. 

"Perhitungan  tersebut hanya dari satu perusahaan  dan hanya perangkat PC,  belum termasuk  perangkat ikutan misalnya  pendingin ruangan (AC) dan lainnya," tegasnya.

Untuk itu, dalam rangka green computing, perlu dilakukan pendekatan virtualisasi, power management, material recycling, dan telecommuting. Penggunaan teknologi virtualisasi  dapat mengurangi jumlah server  fisik karena hanya dibutuhkan satu server virtual untuk menggantikan beragam server, dengan demikian konsumsi daya hanya cukup untuk satu server.

Penggunaan power management untuk perangkat IT baik PC, storage maupun display dapat mengurangi konsumsi daya yang digunakan.  Pelaksanaan proses daur ulang material  komputer  harus melalui tahapan proses yang ramah lingkungan. Penggalakkan telecommuting  yaitu prinsip kerja jarak jauh yang dapat mengurangi mobilisasi manusia.  Pembatasan mobilitas manusia ini memberi keuntungan tidak hanya mengurangi kemacetan, konsumsi energi, tetapi juga kerentanan atas peluang kejahatan.

"Dan ini sudah saya terapkan di kantor saya sendiri dengan mengganti perangkat komputer konvensional ke vcloudpoint. Jika sebelumnya tagihan listrik kantor saya bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 7 juta, maka sekarang tagihannya hanya sekitar  Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta," pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: