Ada pandemi Covid-19, kredit macet di perbankan meningkat

Kamis, 28 Mei 2020 | 10:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski pemerintah telah menggelontor stimulus, termasuk restrukturisasi kredit akibat pandemi Covid-19, ternyata tak sepenuhnya dapat menekan rasio kredit bermasalah. Sejumlah bank masih mencatat peningkatan rasio.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga April 2020, non performing loan (NPL) gross telah 2,89%, meningkat cukup signifikan dibandingkan Desember 2019 sebesar 2,53%. Rasio tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata rasio bulanan pada 2019 sebesar 2,59%.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Jahja Setiatmadja mengakui sepanjang kuartal I-2020, kredit macet perseroan memang terkerek naik.

“Tapi ini tidak serta merta karena Covid-19, karena pada awal tahun ekspansi kredit biasanya memang masih negatif, sementara NPL memang cenderung akan naik,” katanya dalam keterangan virtual, Rabu (27/5/2020).

NPL gross bank swasta terbesar di tanah air ini sejatinya masih cukup rendah, per Maret 2020 sebesar 1,6%, namun mengalami peningkatan dibandingkan Desember 2019 lalu sebesar 1,3%, maupun dibandingkan dengan Maret 2019 sebesar 1,5%.

Sayangnya Jahja enggan memprediksi bagaimana poryeksi kredit macet perseroan hingga akhir tahun. Ia menilai pandemi bikin ekonomi nasional makin volatil, sehingga sukar diprediksi.

Sementara Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Haru Koemahargyo mengaku bakal mengoptimalkan stimulus restrukturisasi kredit terimbas pandemi dari OJK guna menekan rasio kredit macet.

Asal tahu, OJK telah merelaksasi ketentuan kolektabilitas kredit terimbas pandemi dengan nilai maksimum Rp 10 miliar untuk tidak dikategorikan sebagai kredit macet.

“Per Maret 2020, NPL kami 2,81%, April 2020 juga belum banyak berubah. Sedangkan hingga akhir tahun dengan relaksasi kolektabilitas dan restrukturiasi harapannya NPL bisa terjaga di kisaran 3%,” katanya.

Hingga April 2020 lalu, bank terbesar di tanah air ini telah merealisasikan restrukturisasi kredit senilai Rp 101,23 triliun yang berasal dari 1,41 juta debiturnya.

Dari jumlah tersebut, segmen UMKM mendominasi dengan 1,39 juta debitur senilai Rp 96,79 triliun, sisanya berasal dari segmen konsumer dengan 14.731 debitur dengan nilai restrukturisasi Rp 4,43 triliun.

“Sampai akhir tahun, restrukturisasi kredit diperkirakan mencapai 20% dari portofolio kami, ini juga menjadi upaya Bank BRI membantu nasabah melewati masa sulit pandemi,” sambung Haru.

Sementara Direktur Keuangan dan Operasional PT Bank BNI Syariah Wahyu Avianto mengaku pandemi memang mulai mengerek tinggi rasio pembiayaan bermasalah perseroan.

Per April 2020, non performing finance (NPF) BNI Syariah telah mencapai 3,68%, meningkat dibandingkan akhir tahun lalu sebesar 2,90%. Wahyu mengaku rasio tersebut juga bakal mekn meningkat di akhir tahun akibat pandemi.

“Proyeksi kami dampak pandemi Covid-19 akan terus berlanjut beberapa bulan ke depan, sehingga kami telah menyiapkan beberapa skenario untuk mengantisipasi dampak tersebut, termasuk melakukan restrukturisasi atas pembiayaan nasabah, sampai akhir tahun kami masih optimistis NPF dapat dijaga di bawah 4%,” pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: