Menyoroti kasus kekerasan terhadap perempuan di masa pandemi Covid-19

Kamis, 28 Mei 2020 | 15:33 WIB ET
(sndatun.wordpress.com)
(sndatun.wordpress.com)

SURABAYA – Pandemi Covid-19, yang diiringi dengan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat dan imbauan ”di rumah saja”, membuat sebagian kalangan perempuan semakin depresi. Rumah, bagi sebagian perempuan korban kekerasan, bukanlah tempat aman, bukanlah ”surga”.

Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di banyak provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia untuk pencegahan penularan Covid-19 di sisi lain ternyata dinilai melanggengkan kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pun terhambat penanganannya.

Bahkan, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menyebutkan, selama kurun waktu 2 Maret - 25 April 2020, terdapat 275 kasus kekerasan yang dialami perempuan dewasa. Total korbannya mencapai 277 orang. Selain itu, terdapat 368 kasus kekerasan anak dengan korban sebanyak 470 anak.

Ternyata, tak hanya Indonesia yang mengalami problem serupa. Kasus kekerasan terhadap perempuan juga meningkat di berbagai negara selama pandemi Covid-19. Tekanan sosial-ekonomi, semakin sempitnya ruang mencari sumber nafkah, dan meningkatnya tingkat stress berkontribusi pada kenaikan jumlah kekerasan terhadap perempuan.

Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Siti Aminah Tardi menyebutkan, budaya patriarki menjadi faktor dominan munculnya kasus kekerasan terhadap perempuan. Dalam budaya patriarki, ada relasi kuasa yang timpang, di mana perempuan diposisikan subordinat terhadap kaum laki-laki. Walhasil, lelaki berkuasa penuh terhadap anggota keluarga yang lain, khususnya kaum perempuan.

”Pandemi Covid-19 membuat kaum perempuan kesulitan mengakses perlindungan,” ujar Siti Aminah Tardi.

Layanan Psikologi

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati pun mengakui, masih banyak kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di situasi pandemi Covid-19.

”Perempuan dan anak merupakan kelompok rentan terdampak Covid-19 baik dari aspek kesehatan, sosial, maupun ekonomi,” kata Bintang dalam video konferensi saat peluncuran Layanan Psikologi Sehat Jiwa (SEJIWA) oleh Kantor Staf Presiden, akhir April lalu.

Oleh karena itu, pemerintah mencoba memberi solusi untuk memudahkan akses perlindungan bagi perempuan korban kekerasan. ”Program Sejiwa sangat penting, mengingat layanan kesehatan jiwa sangat dibutuhkan dalam situasi sulit seperti saat ini,” ujar Bintang.

"Layanan psikologi ini akan akan memberi tempat bagi perempuan, termasuk yang mengalami KDRT. Juga untuk anak korban ekspolitasi, perlakuan salah, penelantaran," kata Menteri Bintang.

”Layanan psikologi adalah hal yang sangat penting karena dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk mendapatkan edukasi, konsultasi dan pendampingan, khususnya terkait masalah perempuan dan anak di tengah pandemi Covid-19,” imbuh Bintang.

Layanan SEJIWA bisa diakses dengan mengontak 119 ext 8, yang juga merujuk kepada hotline unit pengaduan Kemen PPPA yaitu 0821-2575-1234/ 0811-1922-911 atau melalui web browser http://bit.ly/kamitetapada, dan surat elektronik (email) pengaduan@kemenpppa.go.id.

Layanan SEJIWA juga terhubung dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA)/P2TP2A serta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan Forum Pengada Layanan (FPL) yang ada di seluruh provinsi dan kabupaten/kota, sesuai lokasi pelapor berada. Layanan ini juga berkolaborasi dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) yang ikut menyediakan psikolog professional guna melayani aduan warga.

”Saya minta seluruh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di semua daerah untuk dapat menerima dan menindaklanjuti setiap aduan yang masuk, sesuai dengan mekanisme layanan yang berlaku. Selanjutnya, ikut memastikan semua aduan dilayani dengan sebaik-baiknya dan dipantau hingga proses terminasi,” tegas Menteri Bintang.

”Kita harus berjuang untuk pemenuhan hak psikososial perempuan dan anak,,” pungkas Bintang. kbc4

Bagikan artikel ini: