Perokok anak melesat, ALIT: Akses terlalu terbuka

Minggu, 31 Mei 2020 | 10:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah telah merilis regulasi pengendalian tembakau yakni melalui Peraturan Pemerintah (PP ) no 109 tahun 2012. Namun, faktanya jumlah perokok di usia muda justru meningkat signifikan.

Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS)  2018 , jumlah perokok usia muda (10-18 tahun) di Indonesia mencapai 7,8 juta anak atau 9,1%. Jumlah ini diprediksi terus bertambah menjadi 15,8 juta anak atau 15,91% pada 2030. 

Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang (ALIT)  Indonesia Yuliati Umrah menyatakan berdasarkan kasus perokok anak di Indonesia, terdapat berbagai alasan anak dan remaja memulai merokok.Diantaranya sekedar coba-coba lalu ketagihan, terbiasa melihat anggota keluarga merokok  sampai ingin diajak orang dewasa.

"Semakin meningkatnya jumlah perokok di bawah usia 18 tahun juga disebabkan kian lunturnya kontrol sosial masyarakat dan kurangnya edukasi terhadap bahaya rokok dan masih terjangkaunya harga rokok itu sendiri," ujar Yuliati, pendiri lembaga nirlaba di bidang Perlindungan Anak melalui diskusi Webinar bertema ‘Tembakau dan Produk Turunannya, Serta Implikasinya pada Perlindungan Anak,’di Jakarta, Sabtu (30/5/2020).

Tembakau yang merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Latin yang dibawa pemerintahan kolonial Belanda.Melalui transfer ekologi, Indonesia menjelma menjadi salah satu tembakau terbesar dan terbaik di dunia .

Kini, jutaan orang juga menggantungkan hidup petani dan tenaga kerja kepada industri hasil tembakau dan memberi pendapatan negara. Kendati demikian, konteks tembakau tidak serta merta diterima masyarakat, ketika dikatikan dengan produk turunannya, yakni rokok.

Meski menjadi kontributor ekonomi, menurut Yuliawati dampak buruk rokok juga tidak dapat diabaikan. Data Bea Cukai Kementerian Keuangan pendapatan negara dari cukai rokok tahun 2019 mencapai Rp 158,8 triliun.

Menurutnya pemerintah seharusnya mengatur peredaran dan konsumsi rokok  lebih ketat. Berbagai regulasi terkait batasan minimum umur, promosi, distribusi, dan harga serta cukai dikeluarkan untuk membatasi konsumsi. Namun,  sejumlah kebijakan ini belum berjalan sebagaimana mestinya terutama terkait pengendalian dan pencegahan akses rokok terhadap anak.

Menurutnya momentum bonus demografi seharusnya dapat dimaksimalkan dengan mempersiapkan sumber daya manusia usia produktif dalam jumlah signifikan. Fakta meningkatnya jumlah perokok anak tentunya mengharuskan adanya tindakan cepat untuk memutus akses rokok kepada anak.

Faktor pendorong anak menjadi perokok adalah fenomena rokok di jual dengan harga lebih murah dari banderolnya. Padahal pemerintah menaikkan cukai supaya rokok semakin mahal serta menetapkan harga minimum.

Harga ini bahkan tercantum di pita cukai yang menempel di bungkus rokok. Namun ironisnya, di lapangan banyak rokok yang didiskon serta dijual jauh di bawah harga pita cukai. “Alhasil anak-anak pun dapat menjangkau dengan mudah,” terangnya.

Terdapat tiga hal yang harus segera dilakukan agar anak-anak tidak terpapar penyalahgunaan konsumsi rokok. Pertama, konsistensi pelaksanaan regulasi dan kaidah distribusi. Kedua, pengaturan harga rokok dan mekanisme penjualan yang aman dari jangkauan anak-anak. 

Yuliawati menegaskan penegakan aturan perlu menjadi perhatian agar anak tidak menjadi korban substance abuse. Penggunaan rokok pada anak sebenarnya sama kadar "abuse" nya pada anak yang menggunakan alkohol dan obat obatan.

Maka pelarangan yang seharusnya diberlakukan sama pada anak yang membeli dan menggunakan bahan-bahan berbahaya atau "substantive" yaitu alkohol, obat obatan/ medicine termasuk jamu dan rokok tanpa pengawasan dokter.

“Hal tersebut  merujuk pada pasal 33 Konvensi Hak Hak anak dimana indonesia telah meratifikasi pada tahun 1989 dan telah mengadopsinya menjadi Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) pada tahun 2002,” jelas Yuliati.

Ketiga, edukasi manfaat dan bahaya produk turunan tembakau. “Hal ini tidak kalah penting dari sekadar penertiban aturan konsumsi, distribusi, dan harga karena anak-anak harus tahu apa sesungguhnya manfaat dan bahaya merokok. Dengan demikian, anak-anak akan mampu mengukur risiko yang ditimbulkan ketika merokok. Pemerintah juga harus serius dalam penegakkan peraturan, utamanya terkait pengawasan penjualan serta mengawasi harga rokok di pasar” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: